Ihsan saling memaafkan di Sekretariat DPRD Anambas. Foto: Ist
Anambas, KepriDays.co.id – Sekretariat DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas menggelar mediasi buntut insiden pengusiran wartawan atas nama Ihsan Imaduddin oleh oknum Satpol PP, Herman Supriadi, yang disebut bertindak atas perintah Protokol DPRD, Muksin.
Mediasi ini digelar pada Rabu (30/7) dan melibatkan seluruh pihak terkait, disaksikan langsung oleh Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Anambas, Muhammad Ramadhan, bersama sejumlah anggota.
Dalam forum tersebut, Muksin membantah telah memerintahkan Herman untuk mengusir wartawan. Ia menyatakan bahwa pengamanan dan penertiban adalah tugas dari Satpol PP, baik saat ada kegiatan di DPRD maupun saat tidak ada agenda resmi.
“Saya tidak menyuruh. Itu memang bagian dari tugas pengamanan rutin Satpol PP di kantor DPRD,” ujar Muksin.
Namun pernyataan tersebut bertentangan dengan pengakuan Herman Supriadi yang secara terbuka menyebut bahwa tindakan pengusiran dilakukan atas instruksi langsung dari Muksin. Kendati demikian, Muksin akhirnya mengakui adanya kekeliruan dalam komunikasi dan menyampaikan permintaan maaf.
“Saya akui, dalam peristiwa ini ada kesalahan. Saya minta maaf,” katanya.
Sedangkan Ketua PWI Anambas, Muhammad Ramadhan, turut menyampaikan bahwa insiden serupa pernah ia alami. Ia mengaku pernah dilarang mengambil dokumentasi kegiatan DPRD juga atas perintah Muksin.
“Ini bukan yang pertama, kami harap ada pembenahan serius agar ke depan tidak ada lagi perlakuan seperti ini terhadap wartawan,” kata Ramadhan.
Ia juga menekankan pentingnya kenyamanan dan kebebasan bagi jurnalis dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.
Menanggapi kondisi ini, Sekretaris DPRD Anambas, Jhon Aquarius Putra menyampaikan komitmennya untuk segera membahas titik-titik pengambilan dokumentasi dalam setiap agenda DPRD.
Rencana ini akan melibatkan media, protokol, serta unsur intelijen dari TNI dan Polri yang juga kerap melakukan dokumentasi.
“Pembahasan ini akan dilakukan di waktu yang tepat, karena tidak hanya melibatkan media saja. Semua pihak yang berkepentingan dengan dokumentasi perlu duduk bersama untuk menyamakan persepsi,” jelas Jhon.
Sementara, Ihsan Imaduddin yang menjadi korban pengusiran, menyatakan telah memaafkan semua pihak atas kejadian tersebut.
Ia berharap kejadian ini menjadi pembelajaran bersama untuk menciptakan iklim kerja yang lebih harmonis.
“Mari kita lupakan semua yang sudah terjadi. Kita buka lembaran baru agar bisa bekerja sama dengan nyaman tanpa gesekan,” kata Ihsan.
Ia juga mengingatkan pentingnya pemahaman bersama tentang tugas dan fungsi wartawan, terutama di ruang-ruang publik seperti DPRD.
“Wartawan adalah mitra transparansi publik. Bukan ancaman, tapi penghubung informasi antara pemerintah dan masyarakat,” pungkasnya.
Wartawan : Yolana
Editor : Roni