Rifdah Tsabita selaku Mahasiswa STEI SEBI. Foto: Ist
Oleh:
Rifdah Tsabita
Mahasiswa STEI SEBI
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan penting setelah salat. Secara bahasa, zakat berarti bersih, suci, berkah, dan tumbuh. Sedangkan secara istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah SWT untuk dikeluarkan oleh umat Islam yang telah memenuhi syarat, guna diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahik).
Landasan Hukum Zakat
Perintah zakat terdapat dalam banyak ayat Al-Qur’an, di antaranya:
QS. At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…”
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim juga menegaskan bahwa zakat termasuk dalam lima pilar utama Islam.
Jenis-Jenis Zakat
1. Zakat Fitrah
Dikeluarkan menjelang Idulfitri. Wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda.
Besarannya setara dengan 1 sha’ (sekitar 2,5 kg) beras atau makanan pokok.
2. Zakat Mal (Harta)
Dikeluarkan dari harta tertentu yang telah memenuhi nisab (batas minimal) dan haul (1 tahun kepemilikan).
Termasuk di dalamnya: zakat emas, perak, perdagangan, pertanian, peternakan, dan penghasilan.
Penerima Zakat (Mustahik)
Al-Qur’an (QS. At-Taubah: 60) menyebutkan delapan golongan penerima zakat:
1. Fakir
2. Miskin
3. Amil (pengelola zakat)
4. Muallaf
5. Riqab (hamba sahaya yang ingin memerdekakan diri)
6. Gharim (orang berutang untuk kebaikan)
7. Fisabilillah (di jalan Allah)
8. Ibnu Sabil (musafir yang kehabisan bekal)
Hikmah Zakat
Aspek spiritual: menyucikan hati dari sifat kikir dan cinta berlebihan pada harta.
Aspek sosial: mengurangi kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin.
Aspek ekonomi: mendorong perputaran harta agar tidak menumpuk pada kelompok tertentu. ***