oleh

Peran Guru dalam Menumbuhkan Disiplin Positif Murid

Oleh: Siti Markhamah
Calon Guru Penggerak Kota Tanjungpinang

Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih. Melalui pendidikan proses pembudayaan nilai-nilai luhur kemanusiaan dapat ditumbuhkan pada diri murid. Pembiasaan-pembiasaan positif di sekolah merupakan upaya yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk membentuk karakter murid yang sesuai harapan dan tujuan pendidikan nasional, yaitu untuk mewujudkan profile pelajar pancasila.

Pembiasaan-pembiasaan positif di sekolah akan menjadi sebuah budaya jika murid telah memiliki disiplin positif dalam menjalankan semua pembiasaan-pembiasaan tersebut sehingga pembiasaan tersebut mejadi karakter murid. Displin positif adalah disiplin yang bersumber dari motivasi internal sebagai bentuk penghargaan atas dirinya sendiri. Untuk itu sekolah perlu meninjau kembali bagaimana pelaksanaan displin sekolah yang selama ini sudah berjalan. Apakah murid sudah memiliki disiplin positif dalam menjalankan pembiasaan-pembiasaan baik di sekolah ataukah hanya menghidar dari hukuman, atau hanya sekadar menjalankan rutinitas di sekolah.

Sekolah perlu meninjau kembali apakah motivasi yang mendasari murid dalam menjalankan pembiasaan-pembiasan positif di sekolah. Jika selama ini motivasi yang mendasari perilaku murid adalah karena hukuman ataupun karena ingin mendapatkan penghargaan maka sekolah dan guru memiliki tanggun jawab untuk meningkatkan level motivasi tersebut menuju level motivasi internal di mana siswa termotivasi karena ingin menjadi apa yang mereka inginkan sesuai dengan nilai kebajikan yang mereka yakini.

Untuk mencapai level tersebut yang perlu dilakukan oleh sekolah atau guru adalah dengan mengubah paradigma dari stiumul respon kepada teori kontrol. Dalam teori kontrol ditegaskan bahwa setiap individu memegang kontrol atas dirinya sendiri. Demikian halnya dengan murid, guru tidak bisa memaksa murid untuk melakukan suatu tindakan jika murid tersebut tidak ingin melakukannya. Hal yang perlu dilakukan guru adalah menuntun agar murid bisa menemukan dan tumbuh motivasi internalnya.

Motivasi internalkan akan tumbuh jika kebutuhan dasar dari murid dapat terpenuhi karena pada dasarnya semua tindakan yang dilakukan oleh murid baik yang positif ataupun tindakan negatif adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan dasarnya. Kebutuhan dasar tersebut adalah kebutuhan bertahan hidup, kebutuhan kasih sayang dan rasa diterima, kebutuhan akan kebebasan, kebutuhan kesenangan, dan kebutuhan akan kekuasaan. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memahami kebutuhan dasar murid-muridnya sehingga saat murid melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan guru dapat menuntun murid tersebut untuk memenuhi kebutuhan yang ingin dipenuhi dengan cara yang positif.

Untuk menuntun siswa memenuhi kebutuhan dasarnya secara positif guru perlu meninjau peran kontrol yang selama ini dilakukan terhadap murid. Peran kontrol yang tepat yang harus dilakukan oleh guru adalah peran sebagai manager, bukan sebagai penghukum, pembuat rasa bersalah, sebagai teman, ataupun sebagai pemantau. Melalui perannya sebagai manager guru dapat melakukan restitusi dengan muridnya. Restitusi adalah sebuah uapaya untuk menumbuhkan motivasi internal murid, mealui dialog positif di mana dalam dialog tersebut ada tahap-tahap yang harus dilakukan.

Tahapan tersebut adalah menstabilkan identitas, Validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Menstabilkan identitas dilakukan agar murid tidak merasa menjadi manusia yang gagal karena tindakan yang telah dilakukan. Validasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan dilakukan agar murid menyadari kesalahan dan menemukan solusi untuk menjadi lebih baik dengan nilai kebajikan yang ia yakini. Dengan demikian motivasi internal akan tumbuh dan murid akan melakukan pembiasan-pembiasaan positif di sekolah karena ia meyakini nilai tersebut sebagai wujud penghargaan atas dirinya sendiri. Jika disiplin positif sudah tumbuh pada diri murid maka pembiasaan-pembiasaan positif di sekolah akan menjadi budaya yang pada akhirnya membentuk karakter siswa. (Siti Markhamah, S.Pd.) Calon Guru Penggerak Angkatan V Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *