Dr. Myrna Sofia, SE., M.Si
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim
Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau
Local Expert Kanwil Ditjen Perbendahaan (DJPb) Provinsi Kepulauan Riau
Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menghadapi tantangan geografis dan sosial dalam menyediakan layanan pendidikan yang merata. Sebagai provinsi kepulauan dengan banyak daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu masih menjadi persoalan. Untuk menjawab tantangan ini, pendekatan pendidikan kontekstual menjadi sangat relevan, terutama jika dikaitkan dengan program nasional Sekolah Unggulan Garuda dan Sekolah Rakyat yang telah mulai diinisiasi di beberapa daerah.
Model Pendidikan Kontekstual: Landasan Transformasi Pendidikan di Kepri
Pendidikan kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi lokal, baik dari sisi budaya, potensi ekonomi, maupun geografi. Di daerah kepulauan, model ini mencakup:
Kurikulum adaptif yang menyentuh kehidupan nelayan, maritim, dan ekonomi lokal. Fleksibilitas pembelajaran dengan waktu belajar disesuaikan aktivitas masyarakat pulau. Pemanfaatan teknologi seperti pembelajaran daring/offline berbasis solar panel dan sinyal satelit. Peran komunitas lokal, termasuk tokoh adat, sebagai pendidik informal dalam Sekolah Rakyat.
Model ini menekankan prinsip fleksibilitas, relevansi lokal, dan kolaborasi lintas pihak, agar pendidikan dapat berjalan efektif di wilayah dengan keterbatasan geografis dan infrastruktur. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing elemen:
Kurikulum Kontekstual dan Adaptif. Kurikulum disesuaikan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya lokal, seperti kearifan lokal maritim atau pertanian pulau. Tujuannya agar siswa belajar hal-hal yang relevan dan aplikatif. (UNESCO, 2021; Anderson-Levitt, 2003)
Desentralisasi dan Keterlibatan Komunitas. Keputusan pendidikan lebih banyak dilakukan di tingkat lokal, dengan melibatkan tokoh masyarakat, orang tua, dan lembaga adat untuk meningkatkan kepemilikan bersama terhadap pendidikan. Sekolah dikelola bersama oleh masyarakat lokal, termasuk dalam penentuan kebijakan, perekrutan guru lokal, dan penyediaan fasilitas. Mendorong sense of ownership dan keberlanjutan pendidikan di masyarakat terpencil. ( Bray & Lillis, 1988; Shaeffer, 1994)
Pemanfaatan Teknologi dan Pembelajaran Jarak Jauh. Teknologi seperti e-learning, radio pendidikan, dan platform digital dimanfaatkan untuk menjangkau daerah yang sulit diakses guru atau sekolah formal. Mengembangkan blended learning antara tatap muka terbatas dengan modul daring/luring. Contoh: Program “School-in-a-Box” dari UNICEF dan “Radio Pendidikan” di Filipina. (UNICEF, 2020; World Bank, 2018)
Pelatihan Guru Berbasis Lokal. Guru-guru dilatih untuk mengajar dengan pendekatan kontekstual dan menggunakan sumber daya lokal. Ini juga mendorong rekrutmen guru dari masyarakat sekitar. Mengurangi tingkat perputaran guru dan meningkatkan keberlanjutan proses belajar. (UNESCO Bangkok, 2016)
Fleksibilitas Waktu dan Sistem Modular. Sistem belajar tidak terpaku pada kalender akademik standar. Pembelajaran dapat dilakukan secara modular dan waktu disesuaikan dengan musim kerja orang tua atau kondisi cuaca, misalnya: musim melaut, panen, atau festival adat. (Asian Development Bank, 2015)
Kolaborasi Sekolah Unggul dan Sekolah Rakyat. Sekolah unggulan seperti Sekolah Garuda menjadi pusat pembinaan, pelatihan, dan pendampingan bagi Sekolah Rakyat. Ini menciptakan ekosistem pendidikan yang saling menguatkan.
Implementasi Nyata Model Pendidikan Kontekstual
Model Pendidikan kontekstual di beberapa negara antara lain; Indonesia: Program Sekolah Garis Depan, Sekolah Lapang, dan Program Guru Penggerak di daerah 3T. Filipina: Alternative Learning System (ALS) untuk wilayah kepulauan dan pedalaman. India: Navodaya Vidyalaya untuk anak berbakat dari desa terpencil. Papua Nugini & Vanuatu: Village-based Schools berbasis komunitas adat.
Sekolah Unggulan Garuda dan Sekolah Rakyat dalam Kerangka Pendidikan Kontekstual
Sekolah Unggulan Garuda (SUG) hadir sebagai model pendidikan berkualitas tinggi dengan fasilitas lengkap, guru pilihan, dan pendekatan akademik modern. SUG berfungsi sebagai pusat inovasi dan pembinaan.
Sekolah Rakyat, sebaliknya, dikembangkan secara berbasis komunitas, sederhana, dan menjangkau pulau-pulau kecil dengan infrastruktur minimal, namun tetap menjunjung kualitas melalui pelibatan lokal dan kurikulum kontekstual.
Model sinergi antara keduanya dapat dilakukan melalui:
1. Mentoring dan alih teknologi pembelajaran dari SUG ke Sekolah Rakyat.
2. Rotasi guru dan pelatihan kontekstual bagi pengajar di daerah 3T.
3. Kolaborasi proyek belajar antara siswa SUG dan Sekolah Rakyat agar terjadi pertukaran wawasan.
4. Integrasi nilai-nilai lokal dan nasional agar pendidikan tetap berakar dan berwawasan kebangsaan.
Relevansi di Provinsi Kepulauan Riau
Kepri dengan karakteristik geografisnya sangat membutuhkan model ini. Sebagai daerah perbatasan dan kepulauan, pendekatan seragam dalam pendidikan hanya akan memperdalam ketimpangan. Sekolah Rakyat menjadi jawaban di wilayah terisolasi, sementara Sekolah Garuda menjaga standar mutu dan menjadi inspirasi bagi daerah lain. Keduanya perlu diposisikan secara setara namun saling melengkapi dalam ekosistem pendidikan daerah.
Rekomendasi Kebijakan. Pemerintah daerah dan pusat perlu memberikan afirmasi anggaran khusus untuk pendidikan kepulauan. Regulasikan pembentukan dan akreditasi Sekolah Rakyat sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Bangun platform digital dan pusat sumber belajar jarak jauh yang dikoordinasi oleh Sekolah Unggulan Garuda. Tingkatkan pelibatan perguruan tinggi sebagai mitra pelatihan dan pengembangan kurikulum kontekstual.
Model pendidikan kontekstual yang diimplementasikan melalui sinergi Sekolah Unggulan Garuda dan Sekolah Rakyat merupakan strategi terbaik untuk menjawab kesenjangan pendidikan di wilayah kepulauan seperti Kepri. Ini bukan hanya soal akses, tapi juga kualitas, keberlanjutan, dan relevansi pendidikan dengan kehidupan nyata masyarakat lokal. Pendekatan ini layak dijadikan prototipe nasional bagi pendidikan di wilayah kepulauan dan perbatasan Indonesia.
DJPb Kepri memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pelaksana anggaran, tetapi juga sebagai penghubung, analis, dan advokat kebijakan fiskal yang mendukung pendidikan kontekstual melalui Sekolah Unggulan Garuda dan Sekolah Rakyat. Dengan memainkan peran ini secara optimal, DJPb turut berkontribusi dalam mewujudkan keadilan sosial dan pemerataan pembangunan pendidikan di wilayah kepulauan. (*)