Kanal Opini

Hari Marwah Kepri Bukan Sekedar Seremonial Tahunan

Oleh :
Teddy Maembong
Putra Dabo Lingga

Hari Marwah Kepri seharusnya bukan sekadar seremoni tahunan penuh spanduk dan pidato formalitas. Hari itu semestinya menjadi pengingat bahwa Provinsi Kepulauan Riau lahir dari perjuangan panjang, air mata, tekanan politik, serta keberanian para tokoh daerah yang ingin masyarakat kepulauan berdiri bermarwah di tanah sendiri.

Nama seperti Huzrin Hood, Mochtar Silin, dan para pejuang lainnya tidak memperjuangkan Kepri hanya agar lahir gedung pemerintahan baru atau jabatan baru bagi elite kekuasaan.

Mereka berjuang agar anak-anak Melayu Kepri tidak terus menjadi penonton di negeri sendiri. Mereka ingin daerah ini dipimpin oleh orang-orang yang memahami budaya, karakter masyarakat pesisir, serta denyut kehidupan kepulauan. Mereka ingin marwah daerah dijaga, bukan dijadikan slogan kosong setiap tahun.

Ironisnya, setelah Kepri berdiri bertahun-tahun, cita-cita itu justru terasa semakin jauh. Banyak posisi strategis di pemerintahan diisi oleh orang yang datang tanpa memahami sejarah perjuangan daerah ini, sementara putra-putri terbaik Kepri sering hanya menjadi pelengkap birokrasi di tanahnya sendiri.

Anak negeri diminta loyal, tetapi tidak diberi ruang. Diminta bekerja, tetapi tidak dipercaya memimpin.

Baca Juga

Inilah ironi terbesar perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau: daerah diperjuangkan atas nama marwah masyarakat tempatan, tetapi ketika kekuasaan sudah berdiri, anak negeri justru perlahan tersingkir dari rumahnya sendiri.

Hari Marwah Kepri harus menjadi tamparan moral bagi semua pihak. Bahwa membangun Kepri bukan hanya soal proyek, angka investasi, atau pencitraan pembangunan.

Marwah daerah juga diukur dari sejauh mana pemerintah menghargai anak daerahnya sendiri, memberi ruang kepada SDM tempatan, dan menjaga identitas Melayu Kepri agar tidak sekadar menjadi simbol di panggung budaya.

Sejarah akan selalu menghormati para pejuang yang berdiri di garis depan memperjuangkan lahirnya Kepri. Tetapi sejarah juga tidak pernah lupa mencatat siapa yang dahulu menghambat perjuangan, siapa yang menikmati hasil tanpa pernah berkeringat dalam perjuangan, dan siapa yang memilih diam ketika marwah daerah mulai perlahan terpinggirkan.

Karena pada akhirnya, penghianat perjuangan bukan hanya mereka yang melawan saat Kepri belum lahir. Tetapi juga mereka yang setelah Kepri berdiri, membiarkan anak negeri kehilangan tempat di negerinya sendiri. ***

Share
Tags: Hari Marwah Kepri Bukan Sekedar Seremonial Tahunan Opini Opini Kepridays.co.id