Emak-emak saat hadang mobil Kapolres Anambas. Foto: Ist
Anambas, KepriDays.co.id – Halaman Mapolres Kepulauan Anambas pada Selasa, (31/3) siang tak seperti biasanya. Suasana berubah hening ketika seorang wanita paruh baya berdiri di tengah jalan, menghadang sebuah mobil dinas yang baru saja bergerak.
Wanita itu ternyata bernama Helin. Wajahnya lelah, matanya sembab, dan napasnya tersengal. Di depan mobil Suzuki Grand Vitara yang ditumpangi Kapolres Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka, ia menghentikannya.
Penghentian itu bukan tanpa sebab, Helin datang juga bukan tanpa alasan. Ia membawa keresahan yang telah menggerogoti hatinya selama lebih dari sebulan.
Anak laki-lakinya, Deni Saputra, hilang tanpa kabar sejak penggerebekan narkoba oleh polisi di sebuah kos-kosan di Desa Tarempa Barat pada 22 Februari lalu.
Sejak hari itu, hidup Helin seperti terhenti. Hari-harinya diisi dengan menunggu, menebak, dan berharap tanpa kepastian sedikit pun.
“Tolong lah pak, sudah lebih sebulan anak saya tidak tahu keberadaannya. Apa sudah mati atau masih hidup,” ucap Helin sambil terburai air matanya.
Helin hanya ingin satu hal yakni kepastian. Ia tidak menolak jika anaknya harus berhadapan dengan hukum. Bahkan, dengan tegas ia mengatakan siap menerima kenyataan itu.
“Kalau saya tahu wujud anak saya baru tenang. Kalau dipenjara, senang saya hantarkan makanannya. Kalau dia meninggal, bisa dibuat acara duka,” katanya lirih.
Helin hanyalah Helin. Ia tetap seorang ibu. Sosok yang tak pernah berhenti mencintai anaknya. Deni Saputra sendiri diketahui sebagai pemasok narkoba jenis sabu di wilayah Tarempa.
Namanya mencuat setelah empat orang tersangka, Yan, Tik, Saf, dan Dik, diamankan polisi dan mengaku mendapatkan barang haram tersebut darinya.
Namun saat polisi mendatangi rumahnya untuk melakukan penangkapan, Deni sudah lebih dulu menghilang. Sejak saat itu, jejaknya seakan lenyap tanpa bekas.
Bagi aparat penegak hukum, Deni adalah buronan. Tapi bagi Helin, ia tetap anak yang dulu pernah digendong, dibesarkan, dan dipanggil dengan penuh kasih.
Helin pun menceritakan hal yang semakin membuat hatinya teriris. Anak bungsunya, Cia, mengaku pernah didatangi Deni dalam mimpi. Dalam mimpi itu, Deni datang sambil menangis. Ia ingin pulang, tetapi takut—takut dimarahi ibunya, dan takut ditangkap polisi.
“Ko Den bilang dia salah, mau pulang, mau ketemu emak,” cerita Helin, mengulang ucapan anaknya. Suaranya semakin pelan, seakan tak sanggup menahan perasaan.
Helin juga menaruh kecurigaan pada menantunya, Claudia, istri Deni. Ia merasa ada hal yang tidak biasa sejak Deni menghilang.
Menurutnya, Claudia terlihat menjalani hari-hari seperti biasa, tanpa menunjukkan kesedihan yang mendalam. Hal itu membuat Helin semakin resah.
“Coba gali informasi dari Claudia pak. Mungkin dia tahu keberadaan anak saya. Saya sudah resah, namanya anak dan ibu pasti tak terpisahkan,” pintanya penuh harap.
Menanggapi hal itu, Kapolres AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka mencoba menenangkan Helin. Ia memastikan bahwa pihaknya tidak tinggal diam.
“Ibu tenang dulu, saya sudah minta Kasat Narkoba untuk terus lakukan pengejaran. Nanti Claudia kita panggil untuk ditanya,” ujar Agung.
Komitmen itu menjadi satu-satunya pegangan bagi Helin saat ini. Di tengah ketidakpastian yang menghimpit, ia hanya bisa berharap ada kabar, sekecil apa pun.
Sementara, Agung pun mengimbau bagu masyarakat untuk turut membantu. Siapa pun yang mengetahui keberadaan Deni Saputra diminta segera melapor kepada pihak kepolisian.
Wartawan : Yolana
Editor : Roni