Kanal Opini

Tanjungpinang Perlu “Dikeroyok” Agar Bisa Imbangi Batam

Oleh:
Suyono Saeran
Timsus Gubernur Kepri 2025-2030

Membandingkan Kota Batam dan Kota Tanjungpinang memang menarik karena keduanya adalah “wajah” dari Provinsi Kepulauan Riau, namun memiliki karakter dan fungsi yang sangat kontras. Ibarat langit dan bumi yang secara karakteristik sangat jauh berbeda.

​Dari awal Batam memang dirancang sebagai lokomotif ekonomi dengan dominasi industri, perdagangan, dan jasa. Fasilitas status Zona Perdagangan Bebas (FTZ) dengan fokus utamanya adalah investasi asing, manufaktur (elektronik/galangan kapal) serta logistik internasional menjadikan Batam berkembang begitu pesat.

Sementara Tanjungpinang sejauh ini hanya dipersiapkan sebagai pusat pemerintahan. Sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, denyut nadi kota ini lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas birokrasi, pendidikan, dan pusat kebudayaan Melayu.

Namun ‘karakter’ keduanya yang berbeda bukan berarti harus jadi jurang pemisah untuk meraih kemajuan bersama. Batam yang hanya sejengkal dari Tanjungpinang sudah seharusnya ikut berkontribusi bagi kemajuan ibu kota Provinsi Kepri ini.

Bila kita buka data investasi yang masuk di tahun 2025 terlihat disparitas yang jauh antara keduanya. Total investasi yang masuk di Batam mencapai Rp 69,3 trilyun. Sementara Tanjungpinang hanya Rp 452 milyar dengan dominasi investasi dari dalam negeri. Sungguh sebuah ironi bagi dua daerah yang bertetangga dekat.

Begitu juga dengan jumlah kunjungan wisatawan yang hampir setiap tahun Batam selalu panen. Tahun 2025 jumlah wisatawan yang mampir di Batam mencapai 1,6 juta orang. Di tahun yang sama wisatawan yang berkunjung ke Tanjungpinang hanya 62.350 orang. Lagi-lagi kalah jauh.

Namun ini bukan soal kalah menang atau siapa yang unggul. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, Batam tidak boleh manis sendirian. Harus ada sinergitas yang sifatnya kolaboratif agar Tanjungpinang juga kecipratan manisnya Batam.

Tentu harus ada langkah-langkah strategis yang berkelanjutan beserta regulasi yang kuat untuk membuat keduanya maju bersama. Peran kepala daerah keduanya sangat diharapkan untuk membangun kerja sama yang kuat agar sebagian kue manis Batam juga terhidang di Tanjungpinang.

Baca Juga

Dengan kerja sama yang kuat, Kota Batam dengan investasi besar diharapkan bisa memberi dampak positif bagi Tanjungpinang yang minim investasi. Intinya, daerah dengan investasi besar tidak boleh berkembang sendiri, tetapi harus menjadi mesin pertumbuhan bagi wilayah sekitarnya melalui konektivitas, kolaborasi, dan pemerataan di semua sektor.

Sebagai daerah alternatif investasi, Tanjungpinang tentu juga harus mempersiapkan diri melalui berbagai kebijakan yang membuat investor tertarik. Penguatan konektivitas antar wilayah adalah sebuah keniscayaan. Ketersediaan infrastruktur jalan, pelabuhan, transportasi, internet, listrik dan air menjadi syarat penting agar investor menaruh minat menanamkan modalnya.

Hal lain yang penting, Tanjungpinang juga harus berani memberikan insentif investasi seperti keringanan pajak, kemudahan izin dan kemudahan lahan agar andrenalin investor membuncah untuk membangun kawasan industri baru di kota ini.

Penguatan kerjasama Batam – Tanjungpinang juga bisa jadi salah satu komitmen yang disepakati bersama bahwa setiap investasi industri yang berskala besar di Batam juga perlu diarahkan untuk membangun pergudangannya di Tanjungpinang.

Leading sektornya tentu Pemprov Kepri, Pemko Batam, BP Batam, BP Tanjungpinang dan Pemko Tanjungpinang. Kalau semua peduli dan berkontribusi kuat tentu jalan akan terbuka lebar bagi masuknya berbagai investasi di kota ini. Kerja sama ini juga bisa menyangkut ke hal lain seperti misalnya Tanjungpinang dijadikan pusat UMKM yang memasok aneka kebutuhan industri besar di Batam.

Langkah berani dari seorang pemimpin sangat diharapkan agar ekspektasi masyarakat tidak berhenti hanya di sekitar wacana.

Senggarang dan Dompak merupakan dua kawasan di Tanjungpinang yang punya nilai strategis dalam pengembangan investasi. Apa lagi dua kawasan ini sebagian juga sudah masuk dalam kawasan FTZ yang meliputi daerah pesisir dan sekitarnya.

Tidak ada yang tidak mungkin kalau mau duduk bersama. Kesampingkan dulu ego sektoral agar ibu kota Provinsi Kepri ini terus maju dengan berbagai pencapaian pembangunan dan investasi. ***

Share
Tags: Tanjungpinang Perlu "Dikeroyok" Agar Bisa Imbangi Batam