Ponpes Al-Ihya Cendekia Disiapkan Menjadi Pusat Kaderisasi Ulama Aswaja di Tanjungpinang

TANJUNGPINANG, Kepridays.co.id – Yayasan Al-Ihya Cendekia Kepulauan Riau terus melanjutkan pembangunan Masjid dan Asrama Pondok Pesantren Al-Ihya Cendekia di Jalan Triwijaya, Kota Tanjungpinang. Saat ini pembangunan masih berada pada tahap awal dan dilakukan secara bertahap dengan dukungan para dermawan.

Pimpinan Yayasan Al-Ihya Cendekia, Mhd. Munirul Ikhwan, M.Ag., mengatakan pondok pesantren tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat kaderisasi ulama Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja) di Kepulauan Riau. Selain mendidik santri dalam penguasaan ilmu-ilmu keislaman, pesantren juga diarahkan untuk memperkuat pemahaman terhadap khazanah keilmuan ulama Nusantara dan alam Melayu.

“Kepulauan Riau merupakan salah satu wilayah yang memiliki akar tradisi Islam Ahlusunnah wal Jamaah yang sangat kuat. Hal itu dapat ditelusuri melalui berbagai manuskrip, karya ulama, dan praktik keagamaan masyarakat Melayu yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi keilmuan inilah yang ingin terus kami jaga dan kembangkan,” ujarnya, Ahad 11 Juli 2026.

Menurut Munirul, perkembangan berbagai corak pemikiran keislaman di Indonesia merupakan sebuah realitas yang tidak dapat dihindari. Karena itu, masyarakat perlu memperoleh pemahaman yang utuh mengenai sejarah, dalil, serta landasan amaliah yang telah lama diamalkan oleh para ulama Melayu.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah amaliah yang menjadi tradisi masyarakat Aswaja, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tahlil, zikir berjamaah, dan amaliah lainnya, memiliki dasar argumentasi yang dibangun oleh para ulama dalam khazanah fikih Ahlusunnah wal Jamaah.

“Perbedaan pandangan dalam masalah furu’iyah merupakan sesuatu yang telah lama dikenal dalam tradisi Islam. Karena itu, yang terpenting adalah masyarakat memahami dasar-dasar setiap pendapat sehingga tidak mudah menyalahkan tradisi keagamaan yang telah diwariskan oleh para ulama terdahulu,” katanya.

Munirul mencontohkan tradisi peringatan Maulid Nabi yang telah mengakar di alam Melayu. Menurutnya, sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa perayaan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Melayu sejak lama.

“Dalam surat-surat Raja Ali Haji kepada Van de Wall terdapat keterangan mengenai kemeriahan perayaan Maulid Nabi di Kesultanan Riau-Lingga. Bahkan Raja Ali Haji juga dikenal menulis karya bertema maulid berjudul Gemala Mestika Alam. Ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut memiliki akar sejarah yang kuat di negeri Melayu,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk memutus ukhuwah Islamiyah. Kehadiran Pondok Pesantren Al-Ihya Cendekia, kata dia, bukan untuk mempertentangkan kelompok-kelompok umat Islam, melainkan memperkuat pendidikan Aswaja melalui pendekatan ilmiah, dialogis, dan penuh hikmah.

“Kami ingin melahirkan generasi ulama yang menguasai turats, memiliki akhlak yang baik, menghargai perbedaan pendapat, serta mampu menjelaskan ajaran Ahlusunnah wal Jamaah secara argumentatif dan santun. Dakwah harus dilakukan dengan ilmu, hikmah, dan tetap menjaga persaudaraan sesama umat Islam,” ujarnya.

Melalui pembangunan Pondok Pesantren Al-Ihya Cendekia, Yayasan Al-Ihya Cendekia Kepulauan Riau berharap dapat berkontribusi dalam melahirkan kader-kader ulama Aswaja yang mampu menjaga, mengembangkan, dan meneruskan khazanah keilmuan Islam Melayu di Kepulauan Riau, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan Islam yang moderat, berakar pada tradisi ulama, serta tetap menjunjung tinggi persatuan umat. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *