Bumi Tidak Butuh Diselamatkan, Kitalah yang Butuh Menyelamatkan Diri

Oleh :
Rifdah Tsabita
Mahasiswa Institut Agama Islam SEBI

Setiap kali isu lingkungan dibicarakan, slogan yang paling sering muncul adalah “selamatkan bumi”.

Ia tertulis di poster kampanye, spanduk aksi, hingga kaus para aktivis. Namun jika ditelaah lebih jauh, slogan ini sebenarnya keliru arah dan justru menyembunyikan urgensi yang sesungguhnya.

Bumi telah ada selama lebih dari 4,5 miliar tahun. Ia pernah mengalami lima kali kepunahan massal termasuk peristiwa yang memusnahkan dinosaurus dan tetap bertahan, terus berputar, terus berevolusi.

Setelah manusia punah sekalipun, bumi akan terus ada. Hutan akan tumbuh kembali di atas reruntuhan kota, lautan akan menemukan keseimbangan barunya, dan kehidupan dalam bentuk apa pun yang tersisa akan terus beradaptasi seperti yang selalu ia lakukan.

Yang tidak akan bertahan adalah kita. Manusia adalah spesies yang sangat bergantung pada kondisi spesifik: suhu tertentu, ketersediaan air bersih, tanah yang subur untuk pangan, dan atmosfer dengan komposisi yang stabil. Ironisnya, justru kondisi-kondisi itulah yang kita rusak sendiri.

Ketika kita berbicara tentang naiknya suhu global, mencairnya es kutub, atau rusaknya ekosistem laut, yang sebenarnya sedang dipertaruhkan bukanlah “nasib bumi” melainkan nasib peradaban manusia.

Kenaikan permukaan laut akan menenggelamkan kota-kota pesisir tempat jutaan orang tinggal. Perubahan pola cuaca akan mengganggu produksi pangan yang menjadi sumber hidup miliaran manusia. Krisis air bersih akan memicu konflik dan migrasi paksa dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bumi tidak akan “menderita” secara emosional atas semua ini. Bumi tidak memiliki kepentingan untuk dilestarikan demi dirinya sendiri. Yang menderita adalah manusia dan makhluk hidup lain yang turut bergantung pada ekosistem yang stabil.

Framing “menyelamatkan bumi” membuat isu lingkungan terasa seperti misi altruistik yang jauh dan abstrak seolah kita sedang berbuat baik untuk sesuatu di luar diri kita.

Padahal, kenyataannya jauh lebih personal dan mendesak: setiap kerusakan lingkungan yang kita biarkan adalah ancaman langsung terhadap kualitas hidup kita sendiri, anak-anak kita, dan generasi setelahnya.

Framing yang keliru ini punya konsekuensi nyata. Ia membuat sebagian orang merasa isu lingkungan bukan urusan mendesak toh bumi “akan baik-baik saja.” Ia juga membuka celah bagi sinisme: jika bumi memang akan pulih sendiri dalam skala waktu geologis, untuk apa repot-repot mengubah gaya hidup sekarang?.

Padahal skala waktu yang relevan bukanlah skala waktu geologis bumi, melainkan skala waktu hidup manusia satu atau dua generasi ke depan, ketika dampak krisis iklim benar-benar dirasakan dalam bentuk bencana yang lebih sering, krisis pangan, dan konflik sumber daya.

Menariknya, mengubah cara pandang ini justru bisa membuat gerakan lingkungan lebih kuat, bukan lebih lemah. Ketika isu lingkungan dipahami sebagai soal kelangsungan hidup manusia bukan sekadar kebaikan hati terhadap alam maka ia menjadi kepentingan yang jauh lebih sulit diabaikan.

Orang cenderung lebih tergerak oleh ancaman terhadap dirinya sendiri dan keluarganya, dibandingkan ajakan abstrak untuk “berbuat baik pada planet”.

Ini bukan berarti nilai-nilai kepedulian terhadap alam menjadi tidak penting. Namun ada perbedaan besar antara motivasi “saya peduli pada bumi” dan “saya peduli pada masa depan anak saya, kota tempat saya tinggal, dan pangan yang akan saya makan”. Motivasi kedua jauh lebih dekat, konkret, dan sulit untuk terus ditunda-tunda.

Pada akhirnya, gerakan lingkungan bukanlah tentang menyelamatkan sesuatu di luar diri kita. Ia adalah tentang menjaga kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia terus hidup dengan layak di planet ini.

Bumi tidak butuh diselamatkan ia akan terus berputar dengan atau tanpa kita. Yang benar-benar membutuhkan penyelamatan adalah kita sendiri: cara kita hidup, cara kita mengonsumsi, dan cara kita mewariskan dunia ini kepada generasi berikutnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *