Pantunesia Tembus 1.000 Unduhan, Dominasi Luar Daerah

Tanjungpinang, KepriDays.co.id – Aplikasi edukasi pantun berbasis kecerdasan buatan, PANTUNESIA, mencatat capaian membanggakan sekaligus menyisakan ironi.

Hanya dalam waktu tiga hari pasca peluncuran, aplikasi ini telah diunduh lebih dari 1.000 pengguna. Namun, mayoritas penggunanya justru berasal dari luar daerah asal aplikasi tersebut.

PANTUNESIA resmi diluncurkan pada Rabu, 17 Desember 2025, di Auditorium Dekranasda Kepulauan Riau (Kepri), bertepatan dengan peringatan Hari Pantun Nasional. Sejak saat itu, grafik unduhan aplikasi terus menunjukkan tren peningkatan signifikan.

Hal tersebut disampaikan oleh Doni Mustasar, salah satu tim teknologi PANTUNESIA, kepada media pada Senin (22/12). “Per hari ini jumlah pengguna sudah menembus seribuan lebih, dan grafiknya terus meningkat secara signifikan,” ujar Doni.

Peningkatan jumlah pengguna ini juga dinilai memberi dampak positif terhadap sistem kecerdasan buatan yang dikembangkan dalam aplikasi tersebut.

Agam Yusliman, ahli AI PANTUNESIA menjelaskan, semakin banyak interaksi pengguna, semakin kuat pula ekosistem pembelajaran AI pantun.

“Kecerdasan buatan itu belajar secara mandiri dan sistematis. Semakin banyak pengguna, maka referensi pantun yang dipelajari semakin kaya. Itu membuat daya tahan intelektual sistem menjadi semakin kuat,” jelas Agam.

Namun di balik capaian tersebut, tersimpan fakta yang cukup menggelisahkan. Dato’ Setia Perdana Yoan S Nugraha sebagai penggagas PANTUNESIA mengungkapkan, sebagian besar pengguna aplikasi justru berasal dari luar Kota Tanjungpinang dan bahkan luar Provinsi Kepulauan Riau.

“Dari data yang kami miliki, mayoritas pengunduh berasal dari Kalimantan, Malaysia, dan Brunei Darussalam, disusul Sulawesi dan Singapura. Sementara pengguna dari Tanjungpinang dan Kepulauan Riau justru berada pada persentase paling kecil,” ungkap Dato’ Yoan.

Sedangkan kondisi ini dinilai ironis, mengingat Tanjungpinang selama ini telah melekatkan identitas sebagai ‘Negeri Pantun’. Minimnya partisipasi masyarakat lokal terhadap aplikasi yang justru lahir dari tanah sendiri menimbulkan tanda tanya besar tentang sejauh mana kepedulian terhadap warisan budaya tersebut.

Dato’ Yoan berharap adanya keterlibatan lebih serius dari Pemerintah Kota Tanjungpinang dalam menjaga dan menghidupkan kembali ekosistem pantun sebagai identitas daerah.

“Kami para penggiat pantun sudah berupaya semaksimal mungkin—melalui buku, seminar, workshop, kartu pantun, hingga aplikasi digital. Semua sudah kami lakukan demi Negeri Pantun. Jika pemerintah memilih menutup mata, biarlah masyarakat yang menjadi jurinya,” tutup Yoan dengan nada tegas.

Sementara capaian PANTUNESIA sekaligus menjadi cermin: pantun Melayu ternyata mendapat sambutan luas di tingkat regional dan internasional, namun masih memerlukan perhatian dan keberpihakan lebih kuat di rumahnya sendiri.

Editor : Roni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *