oleh

Mari Berantas HIV/Aids Sampai ke Akarnya

Oleh: Mhd. Munirul Ikhwan
Penyuluh Agama Islam Kota Tanjungpinang

HIV/Aids adalah penyakit menular yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Ironisnya meski tak ada obat, jumlah penderita semakin hari semakin bertambah. Pada Juni 2019 tercatat sebanyak 349.883 orang yang tertular penyakit tersebut.

Ketika ditelusuri faktor penyebab HIV Aids yang paling mendominasi adalah perilaku seks bebas. Perilaku seks bebas merupakan perilaku yang timbul dari gaya hidup kapitalis sekuler. Gaya hidup ini menjadikan seseorang hanya memandang hidup dari sisi materi dan kesenangan duniawi semata. Maka tidaklah heran jika semakin kesini perilaku buruk di masyarakat berkembang. Bahkan dahulu yang mungkin dianggap tabu menjadi sesuatu yang biasa di era sekarang, layaknya pergaulan bebas.

Islam memandang bahwa HIV Aids bukanlah semata-mata persoalan kesehatan (medis) namun merupakan buntut panjang dari persoalan perilaku. Sebab telah terbukti penyebab terbesar penularan HIV Aids adalah perilaku seks bebas, baik itu zina dan homoseksual. Padahal ini semua jelas perbuatan keji dan dosa.

Islam memiliki beberapa mekanisme untuk menyelesaikan persoalan ini yakni pertama, melakukan pencegahan munculnya perilaku beresiko HIV Aids dengan melakukan pendidikan dan pembinaan kepribadian Islam.

Hal ini bisa dilakukan melalui pendidikan Islam yang menyeluruh dan komprehensif, dimana setiap individu muslim dipahamkan untuk kembali terikat pada hukum-hukum Islam dalam interaksi sosial. Seperti larangan mendekati zina dan berzina itu sendiri, larangan khalwat, larangan ikhtilat (campur baur laki perempuan), selalu menutup aurat, memalingkan pandangan dari aurat, larangan masuk rumah tanpa izin, dan lain-lain. Selain itu perlu juga upaya menciptakan lingkungan yang kondusif, dan memberantas lingkungan yang tidak kondusif.

Kedua, memberantas perilaku beresiko penyebab HIV Aids (seks bebas) yakni dengan menutup pintu-pintu yang mengakibatkan munculnya segala rangsangan menuju seks bebas. Negara wajib melarang pornografi-pornoaksi, tempat prostitusi, tempat hiburan malam dan lokasi maksiat lainnya.

Ketiga, pencegahan penularan kepada orang sehat yang dilakukan dengan mengkarantina pasien terinfeksi (terutama stadium AIDS) untuk memastikan tidak terbukanya peluang penularan.

Kepada penderita HIV Aids, negara harus melakukan pendataan konkret. Negara bisa memaksa pihak-pihak yang dicurigai rentan terinveksi HIV/AIDS untuk diperiksa darahnya.

Karantina dimaksudkan bukan bentuk diskriminasi, karena negara wajib menjamin hak-hak hidupnya. Bahkan negara wajib menggratiskan biaya pengobatannya, memberinya santunan selama dikarantina, diberikan akses pendidikan, peribadatan, dan keterampilan. Di sisi lain, negara wajib mengerahkan segenap kemampuannya untuk membiayai penelitian guna menemukan obat HIV/AIDS. Dengan demikian, diharapkan penderita bisa disembuhkan

Ketiga mekanisme tersebut mampu menyelesaikan permasalahan HIV aids hingga keakar-akarnya. Kepada pelaku zina yang menjadi Orang dengan HIV Aids (ODH) bertaubatlah. Sebelum ajal menjemput. Dengan bertaubat Insyaalah akan diampuni segala dosa dan kesalahan. Allah maha menerima taubat hambanya. Waullohu A’lam



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *