oleh

Pembangunan Pabrik Rokok di Dompak Berhenti, BP Tanjungpinang Lakukan Komunikasi

Tanjungpinang, KepriDays.co.id -Pembangunan Pabrik Rokok oleh PT. Megatama Batu Karang Indonesia dikawasan Free Trade Zone (FTZ) Dompak, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepualauan Riau (Kepri) saat ini tidak berjalan atau berhenti. Pelatakan batu pertama pembangunan pabrik rokok tersebut dilakukan pada tahun 2018 lalu.

Kepala Badan Pengusaha (BP) Bintan Wilayah Tanjungpinang, Ikhsan Fansuri mengatakan, tidak mengetahui pasti apa yang menjadi kendala sehingga pembangunan pabrik tersebut tidak lagi jalan.

“Kebetulan saya baru dua bulan menjabat Kepala BP Tanjungpinang, sehingga saya gak tau yang menjadi kendala dalam pembangunan pabrik ini berhenti karena masalah dana atau apa saya gak tau,” ujarnya, Senin (16/11/2020) kemarin di salah satu hotel di Tanjungpinang saat rapat koordinasi inventarisasi status kepemilikan lahan pada kawasan FTZ Senggarang dan Dompak.

Namun, kata dia. saat ini dirinya masih mencoba melakukan komunikasi ke pihak PT. Megatama Batu Karang Indonesia apakah pembangunan itu masih dilanjutkan atau tidak.

“Ini saya lagi coba berkomunikasi dengan yang berinisiasi membangun pabrik itu. Apakan dia memang masih lanjut apa gak,” ucapnya.

Menurutnya, akan mengusahakan paling tidak dari sisi kebutuhannya untuk berinvestasi itu disediakan oleh pihaknya. Artinya, mereka (PT. Megatama Batu Karang Indonesia) sudah punya lahan sendiri, terkait izin-izinnya kalau masih ada yang kurang pihaknya akan bantu dan segala macamnya.

“Jadi, kita kejarlah supaya mereka meneruskan investasinya itu,” ungkapnya.

Saat disinggung, hingga saat ini pembangunan pabrik rokok di atas lahan kurang lebih 16 hektare itu sudah sampai dimana. Salah satu produksi dari pabrik rokok tersebut adalah UN. Namun, bisa jadi ada merek lain yang juga di produksi.

“Kemarin saya cek terakhir mereka sudah memasang master plan untuk kawasan itu, sudah ada gambar, denah dan segala macamnya. Intinya, kami akan tetap memantau terus dan kalau misalnya mereka butuh konsultasi untuk perizinan dan segala macamnya kita akan pasilitasi,” tegasnya.

Dia menjelaskan, dikawasan FTZ itu tidak ada yang namanya bea cukai atau pajak. Artinya, untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) langsung tidak ada.

Namun, di pabrik itu nanti pasti ada tenaga kerja orang lokal atau masyatakat Tanjungpinang, nah orang lokal ini dugaji dan belanja di daerah ini.

“Itu yang namanya multiplier effect. Jadi itulah kompenen pertumbuhan ekonomi yang mau kita kejar,” jelasnya menutup.

Wartawan: Amri



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *