oleh

Nahkoda Kapal Keluhkan Pengelolaan Koperasi Nelayan Anambas Bersama

Anambas, KepriDays.co.id -Seorang nahkoda Kapal Motor (KM) tujuan Anambas-Tanjungpinang dan sebaliknya mengeluhkan pengelolaan Koperasi Nelayan Anambas Bersama di Kabupaten Anambas, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Koperasi ini bergerak dalam jasa angkutan laut.

Hal itu disampaikan oleh Nahkoda KM Bintang Fajar 7, Agun kepada Kepridays.co.id, Kamis (29/4/3021) di salah satu kedai kopi di Kota Tanjungpinang.

Menurutnya, kapal yang diberikan koperasi untuk mengangkut ikan dari Anambas-Tanjungpinang hanya kapal tertentu saja dengan alasan sudah terdaftar dan memiliki crane atau kapal besar.

“Saya gak dikasih muat ikan dengan alasan kapal saya gak punya crane, gak masuk akal. Intinya kan saya bisa muat, mau pakai apa itukan urusan saya,” ujar pria asal Anambas itu sambil bertanya.

Dia mengaku dibuat oleh pengelola atau pengurus masalah angkutan ikan dan keberangkatan (koperasi) di Anambas itu seperti bola.

“Saya datang kesana (Anambas,red) dicekal dan saya dibuat seperti bola digiring sana-sini gak ada kejelasan,” ungkapnya.

Hingga saat ini, dirinya tidak mengetahui seperti apa kepengurusan jika ingin muat ikan dari Anambas. Apakah diatur dari koperasi atau yang punya ikan. 

Walaupun demikian, agar kapalnya bisa mengangkut ikan dari Anambas ke Tanjungpinang apa yang perlu diurus atau disiapkan. Bahkan, prosedur apa yang harus diikuti olehnya, dengan siapa dan kemana.

Sedangkan, kantor koperasi yang diketahui menangani angkutan ikan ini tidak pernah buka alias tutup.

“Saya tau dan datangi kantor koperasi itu gak pernah buka. Jadi untuk saya buat laporan atau seperti apa saya gak tau harus kemana dan saya pun bingung,” katanya kesal.

Dia menambahkan, menurut informasi yang di dapat bahwa koperasi tersebut yang merangkul ikan di Anambas dan koperasi itu juga yang mengatur kapal mana yang berangkat mengangkut ikan dari sana.

Sementara, untuk uang yang dikutip oleh pihak koperasi dari setiap peti sebesar Rp5 ribu. Untuk isi atau muatan satu kapal kecil seperti pompong saja mencapai 150-180 peti dan kapal besar mencapai 200-400 peti, itu per 2-3 hari sekali berangkat.

“Bayangkan Rp5 ribu per peti untuk koperasi itu. Itu uangnya kemana,” ucapnya sambil bertanya.

Terpisah, Ketua Koperasi Nelayan Anambas Bersama, Muslim menjelaskan, mengenai pilih-pilih kapal itu tidak benar. Akan tetapi, ada persyaratan yang harus dipenuhi pihak kapal itu sendiri minimal sudah pakai crane tolak untuk mempermudah muat ikan.

“Kapal yang punya crane aja kerjanya masih lambat, gimana kalau tidak ada crane. Lagipula peti ikan itu berat, jadi kalau hanya mengandalkan tenaga resikonya tinggi dan kalau terjadi apa-apa yang disalahin pengumpul ikan kita,” Ucapnya, Jumat (30/4/2021) saat ditemui di Laut Jaya, Tanjungpinang.

Jadi, untuk bisa mengangkut ikan itu pemilik atau nahkoda kapal harus pasang crane terlebih dulu dan kemudian mendaftar ke koperasi.

Setelah itu, pihaknya akan mengimbau kepada pengumpul-pengumpul ikan yang ada di Anambas bahwa kapal tersebut sudah terdaftar dan bisa mengangkut ikan.

Sedangkan, terkait uang sebesar Rp5 ribu untuk koperasi dari pihak kapal dan itu tidak dipaksa. Artinya murni keiklasan pihak kapal dan ini juga hasil dari kesepakatan bersama antara pihak kapal, pengumpul ikan dan koperasi.

“Rp5 ribu ini juga persetujuan dari orang kapal maupun pengumpul ikan yang ada disana,” ungkapnya.

Saat ini, kata dia, khas koperasi di bank sudah ada puluhan juta. Dana banti direncanakan untuk membeli peti untuk membantu pengumpul-pengumpul yang kecil.

“Kita ingin perbaikan, nanti uang yang ada di khas koperasi setelah keluar pajak kita akan belikan ke peti,” katanya.

Dia menegaskan bahwa uang itu bukan dikutip langsung ke pihak kapal, melainkan pihak kapal sendiri yang menyetor langsung ke rekening bank koperasi.

Untuk diketahui, di Anambas itu ada sebanyak 18 kapal pengangkut ikan dan itu semua sudah ada crane minimal gulung. Dari Anambas muatannya mayoritas ikan dan dari Tanjungpinang Sembako.

Sementara, untuk keberangkatan kapal kecil dua hari sekali dan besar tiga hari sekali berangkat. Dan ini semua harus mengikuti antrian, tidak bisa saling mendahului.

Wartawan: Amri
Editor: Roni



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *