Kanal Opini

DAMPAK POSITIF PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG) TERHADAP GIZI ANAK DAN KUALITAS PENDIDIKAN

Dr. Myrna Sofia, SE., M.Si
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim
Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau
Local Expert Kanwil Ditjen Perbendahaan (DJPb) Provinsi Kepulauan Riau

Dalam rangka keberhasilan program MBG, perlunya multikolaborasi diantara beberapa institusi atau Lembaga antara lain; Kementerian PPN/Bappenas dan Badan Gizi Nasional (BGN) bekerja sama dengan IPB University dan UNICEF Indonesia yang meluncurkan The National Centre of Excellence (NCoE) atau Pusat Unggulan Nasional untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di IPB University.

MBG ditargetkan menjangkau lebih dari 92,78 juta anak balita, anak sekolah dan santri, ibu hamil, dan menyusui sesuai target yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Sebagai salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden RI Prabowo Subianto, MBG bertujuan untuk membangun generasi sehat, cerdas, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045. MBG merupakan inisiatif strategis yang relevan untuk mencapai Trisula Pembangunan Nasional 2029, yaitu pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, serta pengembangan SDM berkualitas.

Program MBG memiliki tujuan utama untuk membangun generasi sehat, cerdas, dan produktif dengan beberapa tujuan khusus. Pertama, pemenuhan gizi ibu hamil dan menyusui, balita, dan anak sekolah. Kedua, meningkatkan prestasi, partisipasi pendidikan dan kehadiran siswa, serta mengurangi anak putus sekolah. Ketiga, meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, dan koperasi. Keempat, menciptakan lapangan kerja dan pengurangan beban penduduk miskin. MBG secara berkelanjutan dan memberikan pemahaman yang baik bagi siswa sekolah terkait Gizi yang baik dan Seimbang.

Gizi yang baik sangat penting bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Anak-anak dengan status gizi kurang berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan fungsi kognitif, yang dapat berdampak pada prestasi belajar dan partisipasi dalam pendidikan.

Menurut UNICEF (2020), anak-anak dengan status gizi baik memiliki peluang lebih besar untuk berhasil di sekolah karena nutrisi yang cukup berperan penting dalam perkembangan otak dan kemampuan belajar. WHO juga menyatakan bahwa kekurangan gizi pada anak usia sekolah dapat menyebabkan penurunan kemampuan kognitif dan prestasi akademik, sehingga berdampak pada keikutsertaan mereka dalam pendidikan formal.

Status gizi yang kurang baik juga dapat mempengaruhi partisipasi anak dalam pendidikan, terutama pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, penting untuk memahami hubungan antara asupan gizi, status gizi, dan angka partisipasi sekolah guna merumuskan kebijakan yang efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Gizi yang cukup berperan dalam menjaga kesehatan tubuh, menjaga kekebalan, dan meningkatkan kecerdasan (Fitriana et al., 2022). Gizi dan kesehatan memiliki peran penting dalam pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Status gizi yang ideal juga penting untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan yang sehat (Desiani & Syafiq, 2025).

Program makan gratis di sekolah dasar diharapkan memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan status gizi siswa. Data menunjukkan adanya perbaikan Indeks Massa Tubuh (IMT) serta penurunan prevalensi anemia pada siswa yang mengikuti program tersebut. Selain dampak kesehatan, program ini juga mendorong peningkatan partisipasi siswa di sekolah, yang tercermin dalam peningkatan angka partisipasi murni (Net Enrollment Ratio).

Program ini bertujuan untuk memberikan asupan gizi yang lebih baik kepada siswa, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu, dengan harapan dapat mendukung kesehatan fisik dan mental siswa sehingga berdampak positif pada prestasi akademik.

Peningkatan kehadiran siswa di sekolah. Siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap program ini, dan tingkat kehadiran siswa menjadi lebih teratur dibandingkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa program tersebut berhasil menarik perhatian siswa dan memberikan motivasi tambahan bagi mereka untuk datang ke sekolah.

Banyak siswa merasa terbantu dengan adanya program ini, terutama siswa yang sering menghadapi kesulitan untuk mendapatkan makanan bergizi di rumah. Bagaimana siswa mengintegrasikan pola makan sehat tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.

Makanan bergizi diprediksi memengaruhi status gizi anak, dan status gizi yang baik mendukung partisipasi sekolah. Gizi yang cukup meningkatkan kemampuan belajar dan berdampak positif pada Net Enrollment Rate (NER).

Dengan memberikan asupan gizi yang cukup dan seimbang, program makan gratis tidak hanya berperan sebagai solusi jangka pendek terhadap kelaparan, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Program ini sangat relevan diterapkan di wilayah dengan angka stunting dan ketidakhadiran sekolah yang masih tinggi.

MBG secara multiplier mempengaruhi banyak aspek antara lain kesehatan dan human capital, lapangan pekerjaan, sektor pertanian dan UMKM pangan, sirkulasi uang local/daerah, dan Pendidikan.

Baca Juga

Kesehatan dan Human Capital. Anak-anak yang mendapat asupan gizi cukup akan tumbuh lebih sehat, cerdas, dan produktif. Peningkatan Gizi Anak melalui penurunan angka stunting, meningkatkan kualitas pendidikan, dan dalam jangka panjang menciptakan SDM unggul yang lebih produktif.

 

Lapangan Pekerjaan. Penciptaan lapangan kerja baru dari hulu ke hilir. Program ini membutuhkan petani, pemasok bahan pangan, juru masak, distribusi, logistik, pengawas mutu (dr. gizi), akuntan, koperasi, nelayan dll. Hal ini akan berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja khususnya di daerah.

Sektor Pertanian Dan UMKM Pangan. Permintaan bahan pangan lokal meningkat akan berdampak kepada kesejahteraan petani. UMKM penyedia makanan/minuman sehat bisa tumbuh karena ada pasar yang pasti dari program ini. Peluang pembentukan koperasi pangan, Peningkatan inovasi dan teknologi di tingkat petani untuk memenuhi demand dari program MBG.

Sirkulasi Uang Lokal. Salah satu upaya pemerintah adalah diharapkan bahan pangan bisa diprioritaskan dari lokal/daerah sehingga terjadi peningkatan uang yang beredar/berputar di desa, pasar tradisional. Perekonomian Mikro juga akan mengalami peningkatan dan memperkuat ketahanan pangan lokal.

Pendidikan. Anak-anak yang memiliki gizi yang cukup dan sehat diharapkan akan bisa fokus belajar sehingga kualitas pendidikan meningkat. Meningkatkan Angka Partisipasi Sekolah yang dilihat dari kemungkinan anak bolos atau putus sekolah karena alasan ekonomi akan menurun, sehingga jumlah anak yang tamat SD, SMP maupun SMA akan mengalami peningkatan. Jumlah Anak yang melanjutkan Pendidikan yang lebih tinggi juga diharapkan akan meningkat.

Enrollment Rate Siswa. Orang tua lebih termotivasi menyekolahkan anaknya: karena beban makan siang ditanggung, ini membantu keuangan keluarga. Insentif untuk datang ke sekolah: Siswa dari keluarga kurang mampu punya alasan kuat untuk hadir karena mereka tahu akan mendapat makanan gratis. Mengurangi ketidakhadiran karena lapar atau kurang energi: Anak yang lapar cenderung malas atau lemas untuk berangkat sekolah.

MBG akan berdampak kepada : Anak kenyang & sehat sehingga tingkat kehadiran ke sekolah akan meningkat dan bias lebih fokus belajar, Nilai anak akan naik, Siswa & orang tua makin semangat sehingga akhirnya yang diharapkan dalam program ini adalah terjadi peningkatan pendidikan berkualitas.

Data & Riset Pendukung (Global). UNESCO dan WFP (World Food Programme) melaporkan bahwa program makan di sekolah dapat meningkatkan kehadiran hingga 9–15% di komunitas miskin. Di India, Midday Meal Scheme berhasil meningkatkan kehadiran anak perempuan secara signifikan di daerah rural.

Potensi di Indonesia: Jika MBG diterapkan secara konsisten, terutama di daerah dengan angka kemiskinan atau stunting tinggi (seperti sebagian wilayah Kepri, NTT, Papua), potensi peningkatan kehadiran sangat besar—bahkan bisa menjadi game changer untuk pendidikan dan kesehatan anak-anak Indonesia, terutama di daerah yang selama ini tertinggal.

 

Program MBG bukan hanya intervensi gizi, tetapi strategi besar pembangunan SDM. Dengan asupan gizi yang cukup, anak-anak bisa belajar dengan baik, hadir secara konsisten, dan tumbuh menjadi generasi unggul. Ini adalah “game changer” untuk masa depan pendidikan Indonesia.

Ada beberapa hal yang diharapkan menjadi focus untuk suksesnya program MBG ini. Mulai dari pilot project di daerah dengan angka stunting & ketidakhadiran tertinggi. Libatkan UMKM lokal, petani, dan koperasi dalam rantai pasok makanan. Lakukan monitoring gizi, kehadiran, dan prestasi siswa untuk evaluasi berkala. Kolaborasi lintas sektor: pendidikan, kesehatan, pertanian, social dan pemerintah. (*)

 

Share
Tags: #Makan bergizi #makan gratis #prabowogibran