Tanjungpinang, KepriDays.co.id – Pemahaman tentang nilai-nilai kebangsaan seringkali dianggap sebagai ranah para pejabat atau politisi semata. Padahal, implementasi nyata dari pilar-pilar negara justru dimulai dari unit terkecil di masyarakat, yakni keluarga.
Dalam hal ini, peran ibu rumah tangga sangatlah vital sebagai benteng utama dalam menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Haji Dharma Setiawan yang merupakan Anggota DPD/MPR RI Dapil Kepri di sela-sela kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama jamaah Majelis Taklim Kecamatan Bukit Bestari, di Café Senda Gurau, Kota Tanjungpinang, Kamis (05/02/2026).
“Pancasila bukanlah pesaing agama. Sila Pertama, ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’, adalah jiwa utama Pancasila. Jadi, tidak ada pertentangan antara menjadi muslimah yang taat dengan menjadi warga negara yang setia pada Pancasila. Keduanya justru saling menguatkan,” kata Bang Haji sapaan akrab Haji Dharma Setiawan.

Kemudian, Bang Haji menjelaskan lebih jauh untuk menjawab keraguan peserta terkait wujud pengamalan Pancasila bagi ibu rumah tangga. Menurutnya, peran seorang ibu dalam keluarga justru jauh lebih berat dan nyata implementasinya.
“Jangan salah, di dapur, saat ibu membagi makanan dengan adil untuk anak-anak, ibu sedang mengamalkan Sila Kelima. Saat mengajarkan anak jujur dan sopan santun kepada orang tua, itu penanaman Sila Kedua. Bahkan saat mengajak keluarga salat berjamaah, itu wujud Sila Pertama. Jadi, rumah tangga itu adalah benteng Pancasila yang paling utama,” ungkap Bang Haji disambut anggukkan para peserta.
Dalam dialog yang berlangsung hangat tersebut, permasalahan degradasi moral akibat
penggunaan gawai (gadget) yang berlebihan pada anak-anak juga menjadi sorotan. Bang Haji mengibaratkan Pancasila sebagai sebuah saringan (filter) budaya di era digital.
“Kalau saringannya bocor, budaya luar yang tidak sesuai masuk semua. Tugas kita, terutama kaum ibu, adalah menambal saringan itu dengan kasih sayang dan keteladanan. Kalau azan berkumandang, ingatkan anak untuk meletakkan HP lalu ajak ke masjid. Itu cara pelan tapi pasti untuk mengembalikan nilai luhur bangsa,” ujarnya.
Ke depan, penguatan nilai-nilai kebangsaan diharapkan dapat terus diintegrasikan ke dalam
kegiatan masyarakat sehari-hari. Dalam forum tersebut, peserta majelis taklim menyarankan
perlunya pelatihan bagi para Da’iyah atau ustadzah untuk menyisipkan nilai Pancasila dalam ceramah agama yang menarik.
Selain itu, masyarakat juga berharap adanya dukungan alat peraga edukatif seperti buku cerita kepahlawanan untuk anak-anak usia dini.
Dengan penerapan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika secara
konsisten, Bang Haji berharap agar ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam) dan
ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dapat terus terjalin erat, khususnya di lingkungan masyarakat Kecamatan Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang.
Editor : Roni
