Jakarta, KepriDays.co.id – Setelah menyampaikan ihwal pencalonannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin memilih menempuh jalan silaturahmi dan dialog dengan pengurus NU di berbagai daerah di antaranya Bengkulu, Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk menyampaikan visi, misi, dan agenda strategis yang ditawarkan untuk membawa Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua sekaligus menyerap aspirasi dari PWNU dan PCNU di berbagai wilayah Indonesia.
Bagi Gus Rozin, pencalonan Ketua Umum PBNU tidak semata-mata merupakan kontestasi personal untuk memperebutkan kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, pencalonan harus menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, mendengar persoalan dari bawah, dan mencari jalan keluar atas berbagai tantangan yang dihadapi jam’iyyah.
Dalam setiap pertemuan dengan pengurus NU di daerah, Gus Rozin membawa setidaknya tiga gagasan utama: poros tengah untuk merawat ukhuwah dan mengakhiri polarisasi, NU sebagai rumah besar masyarakat sipil keagamaan, serta penguatan kemandirian dan kedaulatan jam’iyyah yang bertumpu pada kekuatan jemaah.
Salah satu gagasan yang terus disampaikan Gus Rozin dalam berbagai kunjungan daerah adalah perlunya membangun poros tengah sebagai jalan keluar dari dinamika dan ketegangan yang berkembang di internal NU.
Menurut Gus Rozin, NU tidak boleh membiarkan perbedaan pandangan berkembang menjadi polarisasi yang berkepanjangan.
Perbedaan dalam organisasi merupakan sesuatu yang wajar, tetapi ketika perbedaan tersebut berubah menjadi konflik yang mengganggu persatuan jam’iyyah, diperlukan kebijaksanaan dan keberanian untuk mencari jalan tengah. Gagasan tersebut, menurut Gus Rozin, lahir dari pembacaan terhadap dinamika NU dalam beberapa waktu terakhir.
Berbagai pertemuan dan ikhtiar islah telah dilakukan untuk mempertemukan pihak-pihak yang berbeda pandangan. Forum-forum seperti pertemuan para kiai di Lirboyo serta berbagai ikhtiar konsolidasi organisasi hingga Munas dan Konbes NU telah menunjukkan adanya keinginan untuk menyelesaikan persoalan secara musyawarah.
Namun, dinamika dan perbedaan terlihat belum sepenuhnya selesai. Karena itu, Gus Rozin menawarkan pendekatan yang tidak dibangun di atas logika menang-kalah.
“Poros tengah bukan poros untuk berhadapan dengan siapa pun. Poros tengah adalah jalan untuk mempertemukan berbagai pihak, meredakan ketegangan, dan mengembalikan NU kepada kepentingan yang lebih besar, yaitu ukhuwah Nahdliyah dan keberlanjutan khidmah jam’iyyah,” kata Gus Rozin dalam keterangannya, senin (10/8/2026).
Bagi Gus Rozin, poros tengah harus menjadi ruang bersama, bukan kelompok baru yang menambah fragmentasi. Orientasinya adalah mempertemukan berbagai kekuatan yang ada di NU dengan menjadikan kepentingan organisasi, tradisi keulamaan, dan kemaslahatan jamaah sebagai titik temu.
Editor: Roni
