Jakarta, KepriDays.co.id – Pada periode 12–16 Oktober 2026, IHSG tertekan tajam. Analis menyebut salah satu pemicu adalah kepanikan investor setelah MSCI memulai konsultasi terkait potensi perubahan status pasar Indonesia dari emerging market (EM) menjadi Standalone market.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Sabtu (17/10/2026), IHSG sepekan anjlok 14,91% ke 5.185,10 dari pekan sebelumnya di 6.093,75.
Pada Jumat, 16 Oktober 2026, BEI juga melakukan trading halt pada pukul 08.58.00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) setelah koreksi IHSG mencapai 8%.
Kapitalisasi pasar turun 14,43% menjadi Rp 9.157 triliun dari Rp 10.701 triliun pada pekan sebelumnya.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyebut tekanan jual membesar sepanjang pekan.
Faktor pertama yang menurutnya mendorong tekanan adalah panic selling usai penyedia indeks global MSCI mengajukan proposal perubahan status Indonesia dari EM menjadi Standalone Market.
“Hal ini sifatnya konsultasi dengan keputusan final pada Juni 2027 dan dapat dibalkan apabila terdapat perbaikan yang signifikan,” kata Herditya dikutip dari Liputan6.com.
Faktor berikutnya berasal dari eksternal Amerika Serikat. Rilis consumer price index (CPI) berada di 3,7% Year on Year (YoY) dan masih jauh dari target The Federal Reserve (The Fed), sehingga diperkirakan kebijakan higher for longer berlanjut dengan potensi satu kali kenaikan sebelum akhir 2026. Di sisi lain, Producer Price Index (PPI) AS naik 1,3% Month on Month.
Herditya juga menyoroti perkembangan geopolitik. Eskalasi di Timur Tengah, khususnya antara Houthi dan Arab Saudi, masih dicermati pasar. “Hal tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar akan adanya kenaikan harga minyak mentah dan akan terjadinya inflasi energi secara global,” kata dia.
Aktivitas Perdagangan: Volume, Nilai, dan Aksi Asing
Rata-rata volume transaksi harian turun 5,22% menjadi 44,10 miliar saham dari 46,53 miliar saham pada pekan sebelumnya. Rata-rata nilai transaksi harian juga menyusut 0,07% menjadi Rp 16,21 triliun dari Rp 16,23 triliun.
Berbeda dengan volume dan nilai, rata-rata frekuensi transaksi harian justru naik 2,46% menjadi 1,72 juta kali dari 1,67 juta kali.
Di pasar reguler, investor asing membukukan aksi jual bersih Rp 3,19 triliun pada pekan ini, lebih besar dibanding pekan lalu sebesar Rp 2,44 triliun.
Editor: Roni
