Oleh:
Suyono Saeran
Timsus Gubernur Kepri
Tidak semua orang harus banyak bicara untuk menunjukkan kemampuan. Ada yang memilih bekerja dalam diam, menyusun langkah dengan cermat, menuntaskan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, lalu membiarkan hasil pekerjaannya berbicara.
Sosok seperti itulah Rodi Yantari, ST, MM, MT. Lelaki kelahiran Tanjungpinang, 11 Januari 1977, yang dikenal lebih banyak bekerja daripada berbicara.
Putra pengacara senior Bastari Majid, SH, ini telah menghabiskan sebagian besar perjalanan kariernya di dunia pekerjaan umum dan pembangunan infrastruktur.
Sebuah dunia yang menuntut ketelitian, ketegasan, kemampuan mengambil keputusan, serta keberanian menghadapi berbagai persoalan di lapangan. Baginya, setiap tanggung jawab bukan sekadar tugas yang harus diselesaikan, melainkan amanah yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya.
Perjalanan panjang itu tidak dibangun dalam semalam. Sejak pertama kali menjadi tenaga honorer hingga akhirnya diangkat sebagai aparatur sipil negara (ASN), Rodi nyaris tidak pernah jauh dari lingkungan Dinas Pekerjaan Umum.
Pengalamannya terbentang dari masa pengabdian di Pemerintah Kabupaten Bintan, Pemerintah Kota Tanjungpinang, hingga kini dipercaya memimpin Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPP) Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
Alumni SMA Negeri 2 Tanjungpinang tahun 1995 ini memahami betul bahwa pembangunan tidak cukup hanya bermodalkan perencanaan di atas kertas. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, mulai dari aspek teknis, ketepatan anggaran, manajemen waktu, hingga persoalan sosial yang muncul di tengah masyarakat.
Pengalaman panjang itulah yang menempa dirinya menjadi seorang birokrat teknis dengan pemahaman yang tumbuh dari proses, bukan sekadar teori.
Sebelum dipercaya menduduki kursi kepala dinas, Rodi telah melewati berbagai jenjang jabatan. Ia pernah menjadi kepala seksi, kepala bidang, hingga sekretaris. Setiap posisi memberinya pelajaran tersendiri tentang bagaimana mengelola pekerjaan, memahami persoalan, membangun koordinasi, dan mengambil keputusan.
Ia tumbuh bersama dinamika pekerjaan umum, menyaksikan perubahan kebutuhan pembangunan, sekaligus belajar bahwa setiap proyek memiliki tantangan yang tidak selalu sama.
Bekal akademiknya pun terus diperkuat. Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik di Universitas Islam Riau pada 2001, Rodi melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Batam dan menuntaskannya pada 2019. Ia kemudian meraih gelar Magister Teknik Sipil dari Universitas Islam Riau pada 2024.
Perpaduan pengalaman lapangan dan pendidikan formal tersebut menjadi modal penting dalam menjalankan tugasnya. Sebab, pembangunan yang baik tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kecakapan manajerial, ketegasan dalam mengambil keputusan, dan kepekaan dalam membaca persoalan.
Kini, sebagai Kepala Dinas PUPP Provinsi Kepulauan Riau, Rodi memikul tanggung jawab yang semakin besar. Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, mempercayakan kepadanya pengawalan berbagai proyek pembangunan strategis, termasuk proyek-proyek yang memiliki nilai penting bagi masa depan daerah.
Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah pembangunan kawasan Gurindam 12 di Tanjungpinang. Proyek ini bukan hanya menyangkut pekerjaan fisik, tetapi juga bersinggungan dengan kepentingan masyarakat, termasuk penataan pedagang kaki lima.
Dalam situasi seperti itu, persoalan teknis harus berjalan beriringan dengan komunikasi, koordinasi, dan pencarian solusi yang dapat mengakomodasi berbagai kepentingan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa mengelola proyek pemerintah tidak selalu sesederhana menyelesaikan pekerjaan sesuai gambar perencanaan. Ada dinamika yang harus dihadapi, ada persoalan yang perlu diurai, dan ada keputusan yang mesti diambil pada waktu yang tepat. Di sinilah ketenangan, pengalaman, dan kemampuan mencari jalan keluar menjadi sangat berarti.
Bagi Rodi, persoalan sekecil apa pun tidak sepatutnya dibiarkan berlarut-larut. Masalah yang segera dikenali dan ditangani memiliki peluang lebih besar untuk diselesaikan sebelum berkembang menjadi hambatan yang lebih besar. Karena itu, ia berusaha membangun disiplin kerja melalui perencanaan yang teratur dan pelaksanaan yang terukur.
“Saya punya jadwal kerja yang tersusun rapi. Dan setiap jadwal sebisanya saya selesaikan dengan baik,” kata Rodi dalam sebuah diskusi kecil belum lama ini.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyiratkan prinsip kerja yang penting: keberhasilan bukan semata-mata ditentukan oleh besarnya kemampuan seseorang, melainkan juga oleh kedisiplinannya mengelola waktu, konsistensinya menjalankan rencana, serta kesungguhannya menyelesaikan apa yang telah menjadi tanggung jawab.
Kini, tantangan besar kembali berada di hadapannya. Rodi dipercaya mengawal pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional dan di Pulau Penyengat, sebuah proyek multiyears dengan nilai hampir Rp100 miliar.
Proyek ini ditargetkan selesai pada 2028, dengan harapan dapat diresmikan pada 28 Oktober 2028, bertepatan dengan peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda.
Bagi Kepulauan Riau, pembangunan tersebut bukan sekadar urusan mendirikan bangunan megah. Pulau Penyengat memiliki kedudukan penting dalam sejarah bahasa, kebudayaan, dan perjalanan intelektual bangsa Indonesia.
Kehadiran Museum dan Monumen Bahasa Nasional diharapkan menjadi pengingat akan warisan besar tersebut sekaligus memperkuat identitas sejarah dan kebudayaan daerah.
Karena itu, pekerjaan yang berada di pundak Rodi bukan perkara ringan. Nilai proyek yang besar, target waktu yang telah ditetapkan, serta pentingnya bangunan tersebut bagi masyarakat menuntut pengawasan yang serius, koordinasi yang kuat, dan pengendalian pekerjaan yang konsisten serta team work yang solid.
Setiap tahapan harus dijaga agar pelaksanaannya berjalan sesuai ketentuan, mutu yang dipersyaratkan, anggaran, dan jadwal yang telah direncanakan.
Rodi menyadari bahwa keberhasilan proyek tidak cukup diukur dari seberapa megah bangunan yang berdiri. Lebih dari itu, pembangunan harus dapat diselesaikan dengan baik, memberikan manfaat nyata, dan meninggalkan kebanggaan bagi masyarakat yang akan mewarisinya.
“Saya tetap akan berusaha dengan maksimal agar proyek pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Penyengat tidak ada masalah serta selesai sesuai waktu yang ditetapkan. Kalau selesai, proyek ini akan jadi legacy yang penting bagi seluruh masyarakat,” katanya serius.
Pernyataan itu sekaligus menggambarkan cara pandangnya terhadap pengabdian. Bahwa ada pekerjaan yang manfaatnya mungkin tidak sepenuhnya dirasakan hari ini, tetapi akan dikenang dan dinikmati oleh generasi yang datang kemudian.
Ada pula tanggung jawab yang tidak cukup diselesaikan dengan laporan administratif, karena hasil akhirnya akan menjadi bagian dari perjalanan sejarah daerah.
Di titik inilah perjalanan Rodi Yantari menemukan maknanya. Dari seorang tenaga honorer yang menapaki karier setahap demi setahap, hingga dipercaya memimpin dinas strategis di tingkat provinsi, ia memperlihatkan bahwa pengabdian merupakan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, kemauan belajar, dan konsistensi dalam bekerja.
Kariernya juga menjadi pengingat bahwa kepercayaan tidak semestinya dipandang sebagai sebuah kehormatan semata. Kepercayaan adalah tanggung jawab yang harus dibuktikan melalui kerja nyata. Semakin besar amanah yang diberikan, semakin besar pula kesungguhan yang dibutuhkan untuk menunaikannya.
Kini, Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat menjadi salah satu ujian penting dalam perjalanan pengabdiannya. Waktu akan membuktikan sejauh mana perencanaan dapat diwujudkan menjadi karya yang membanggakan.
Namun, satu hal yang pasti, keberhasilan pembangunan tidak lahir dari satu orang saja. Ia merupakan hasil kerja bersama, kolaborasi lintas pihak, kepatuhan pada aturan, serta komitmen untuk menjaga mutu dan kepentingan masyarakat.
Pada akhirnya, seorang pemimpin tidak hanya dikenang karena jabatan yang pernah disandangnya, tetapi karena apa yang berhasil ditinggalkannya. Jabatan memiliki batas waktu, sedangkan karya yang dibangun dengan kesungguhan berpeluang melampaui masa pengabdian seseorang.
Dan bagi Rodi Yantari, perjalanan itu masih terus berlangsung. Ada tanggung jawab yang harus dituntaskan, ada harapan masyarakat yang mesti dijaga, dan ada sejarah yang sedang dipersiapkan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab, pengabdian yang sesungguhnya bukan tentang seberapa lama seseorang menduduki sebuah jabatan, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu ia tinggalkan bagi banyak orang. ***
