oleh

Walikota Tanjungpinang

Oleh:
Robby Patria Hida’at
Akademis

Alhamdulillah tahapan penting Pilkada Tanjungpinang selesai ketika rekapitulasi tingkat kota ditetapkan. Dari 2016, kami bersama dengan tim KPU mempersiapkan anggaran dan kegiatan Pilkada agar berjalan dengan baik. Berdebat sesama komisioner sepertinya sudah tak terhitung. Bahkan sampai ada yang keluar rapat. Tapi besoknya kami kembali membahas dengan suka ria. Dan kami beruntung punya team yang saling memahami.

Komunikasi yang baik antara Paslon, stakeholder terkait tentu menjadi kunci Pilkada Tanjungpinang berlangsung damai. Terkhusus kesigapan Kapolres Tanjungpinang dan anggota dalam melakukan pengamanan Pilkada.

Walaupun sebelumnya diprediksi nomor dua paling rawan di Indonesia. Daerah yang cuma pemilihnya 141.777. Tapi kewaspadaan yang begitu tinggi dari aparat keamanan menjadikan Tanjungpinang kota yang nyaman untuk kita semua.

Selama tahapan, saya kira tidak ada perdebatan serius dengan paslon. Setiap tahapan kami lalui dengan  suka cita. Yang ingat hanya masalah logo bendera merah putih dipakai untuk Paslon no 1 saja. Walaupun akhirnya Paslon 1 setuju tanpa logo bendera di atas saku. Karena memang aturannya tidak memperbolehkan logo atau atribut yang tidak melekat di baju. Saya harus menskor rapat beberapa hari agar keduanya sepakat. Karena desain surat suara harus cepat disepakati.

Pun ketika menentukan tema debat sampai tiga kali, panelis, hingga pembatasan jumlah pendukung semuanya berlangsung dengan semangat kekeluargaan.

Di malam 24 Juni 2018 misalnya, ketika penyerahan dana penerimaan dan pengeluaran dana kampanye kepada auditor, saya memimpin rapat masih dengan bersenda gurau dengan LO Paslon satu dan dua. Dan ketika kami mengumumkan harta kekayaan pasangan calon di Comforta, kedua Paslon membacakan dengan seksama.

Kekuasaan itu memang direbut ataupun dijemput. Tapi ia bagian dari suratan takdir tertulis di langit. Silaturahmi sesama putra terbaik Tanjungpinang saat ini tetap terjaga. Bang Lis dan Pak Syahrul dua tokoh yang memiliki kelebihan dan pastinya juga kekurangan.

Mereka saling melengkapi saat memimpin Tanjungpinang 2013-2018. Dan diujung jalan pun mereka menentukan pilihan politik untuk tampil berpisah.

Pilkada sebuah proses jalan panjang yang akan berlangsung terus menerus untuk sarana mencari pemimpin dalam negara demokrasi. Dan kita tentu bersyukur, 171 daerah yang Pilkada semuanya berlangsung damai. Memang masih ada demo memprotes penyelenggara di beberapa daerah di Indonesia.

Tetap saja siapapun boleh bersuara asalkan sesuai dengan mekanisme. Dalam Pilkada juga ada saluran untuk dipergunakan jika ditemukan pelanggaran dalam pilkada.

Pilkada Tanjungpinang juga mungkin saja sebagai pilkada termurah di Indonesia. Bayangkan untuk menjadi walikota Paslon hanya habis paling banyak Rp. 1,5 miliar. Bahkan salah satu Paslon hanya habis Rp. 500 juta.

Jauh di bawah pembatasan dana kampanye yang kita patok di angka Rp 6 miliar. Untuk di Tanjungpinang tak perlu dana besar menjadi walikota. Jumlah itu pastilah lebih kecil dibandingkan dengan biaya kampanye caleg 2014 untuk duduk di kursi wakil rakyat.

Penyelenggara yang netral tidak berpihak menjadi mutlak agar tidak ada yang perasaan disakiti. Di sanalah kunci utama pemilu dan pilkada bisa jurdil, transparan dan akuntabel. Dan saya tekankan kepada seluruh jajaran adhok mulai dari PPK hingga PPS untuk menjaga integritas. Tak boleh memihak. Kita harus betul betul kelihatan netral.

Kita masih punya jalan yang panjang sebelum masa pengabdian itu terhenti sampai waktunya tiba. Untuk itu berbuat lah terbaik. Karena sejarah akan mencatat amal kebaikan maupun kejahatan.

Dan 4 Juli 2018 kontestasi itu selesai. Saya haturkan selamat kepada Pak Syahrul dan Bu Rahma yang menjadi peraih suara terbanyak. Dan tentunya abangda Lis Darmansyah-dr.Maya yang saya kenal berjiwa besar.

Saya kenal baik Bang Lis saat saya memulai karir sebagai wartawan 2004. Sebelumnya hanya tahu nama beliau sebagai Ketua DPRD Tanjungpinang dalam usia muda. Begitu juga saya kenal Pak Syahrul saat saya menjadi wartawan. Saat itu beliau kepala sekolah SD Teladan Tanjungpinang.

Sedangkan dr.Maya saya tahu karena kebetulan senior di SMAN2. Dan ternyata teman sebangku kawan saya. Dan Bu Rahma saya tahu karena sebagai anggota DPRD Tanjungpinang dengan suara terbanyak di Tanjungpinang Timur.

Siapapun yang memimpin Tanjungpinang tentu punya tanggungjawab moral menyelesaikan janji politik saat masa kampanye.

Warga Tanjungpinang menanti janji itu untuk diwujudkan. Dan akhirnya saya juga minta maaf kepada semua pihak yang terlibat di kepemiluan. Mencari jalan sunyi di negeri seberang menuntaskan tugas membahagiakan ayah bunda, istri dan anak anak.

Dan selamat datang walikota Tanjungpinang 2018-2023. ***



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *