oleh

Antara Anak dan Gawai di Tengah Pandemi (2)

Oleh: Lutfi Humaidi
Doktor Ilmu Penyuluhan Pembangunan IPB, ASN Balitbang Kementerian Pertanian dan Asisten KPAI 2010-2017

KepriDays.co.id-Setiap orangtua harus mempunyai pola dalam memediasi anak dengan gawai disesuaikan kebutuhan dan usia anak. Gawai/HP pada masa pandemi virus corona (Covid-19) menjadi media atau alat anak untuk menerima segala tugas dan arahan dari guru dan sekolah. Karena wabah mengharuskan kegiatan belajar anak di sekolah diganti lewat e-learning, belajar jarak jauh secara darling. Dengan menjalani kegiatan pembelajaran jarak jauh yang berbasis media digital sudah barang tentu anak membutuhkan aktivitas berinteraksi dengan gawai semakin tinggi. Untuk itu, orangtua juga harus bersedia meluangkan waktunya untuk mendampingi anak-nya dalam memanfaatkan gawai sebagai media belajar anak secara baik dan benar.

Pola mediasi orangtua akan berpengaruh terhadap perilaku anak dalam penggunaan gawai. Menurut pandangan beberapa ahli diantaranya menurut Wilis (1994) membagi pola mediasi orangtua menjadi tiga macam, yaitu koersif, dialogis dan permisif. Tiga Pola mediasi tersebut dapat diterapkan dalam penggunaan gawai pada anak. Pola mediasi yang berbeda-beda berkaitan erat dengan sifat kepribadian anak yang berbeda-beda pula. Namun menurut penulis ada delapan pola mediasi orangtua dalam penggunaan gawai pada anak, yaitu pola mendiskusikan, memperketat aturan, membatasi teknis akses, mengalihkan, menyediakan permainan alternatif, memeriksa setelah akses, memberi contoh akses, dan membebaskan.

1. Mendiskusikan
Orang tua yang menerapkan pola asuh penggunaan gawai dengan mendiskusikan, mendorong anak untuk mandiri tetapi tetap memberi batasan dan mengendalikan tindakan-tindakan mereka. Orangtua tetap memberi kesempatan kepada anak untuk berdialog secara verbal. Orangtua yang menerapkan pola asuh ini bersikap terbuka, fleksibel dan memberikan kesempatan kepada anaknya untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan peraturan yang rasional (Santrock, 2007). Hal ini menyebabkan orangtua mempunyai hubungan yang dekat dengan anak-anaknya dan selalu mendorong anaknya untuk ikut terlibat dalam membuat peraturan dan melaksanakan peraturan dengan penuh kesadaran.

Orangtua berusaha mengarahkan anak secara rasional, dengan berorientasi pada isu dalam hal ini penggunaan gawai. Orangtua mendorong terjadinya memberi dan menerima secara verbal, memberikan alasan atas keputusan yang diambil, dan memperhitungkan pendapat anak (Setiono, 2011). Orang tua mengarahkan perilaku anak secara rasional, dengan memberikan penjelasan terhadap maksud dari aturan yang diberlakukan. Orangtua mendorong anak untuk mematuhi aturan dengan kesadaran sendiri. Disisi lain, orangtua bersikap tanggap terhadap kebutuhan dan pandangan anak (Lestari, 2012).

Pola asuh ini diterapkan dengan cara mengajak anak untuk berdiskusi dan mengemukakan pendapat mengenai penggunaan gawai secara positif maupun negatif. Penerapan pola asuh dengan mendiskusikan dalam konteks yang lebih luas, yaitu setiap aktivitas antara orangtua dengan anak yang membicarakan tentang konten media (Livingtone dan Helsper, 2008). Orangtua bersikap responsif terhadap kebutuhan anak, mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan, serta memberikan penjelasan terhadap dampak dari perilaku yang telah dilakukan anak. Tentukan kapan anak-anak boleh menggunakan media digital, berapa lama, dan situs apa saja yang boleh dan tidak boleh diakses. Bahas bersama anak-anak pedoman yang anda tetapkan, dan pastikan bahwa mereka memahaminya.

Memberikan edukasi tentang literasi digital adalah satu hal, namun tidak berarti orang tua bisa lepas tangan begitu saja atas keselamatan dan kenyamanan putra-putrinya ketika menggunakan Internet. Penggunaan Internet oleh anak membutuhkan tanggung jawab kedua belah pihak, baik orang tua maupun anak tersebut. Dalam hal ini, ada tiga hal yang perlu didiskusikan antara orangtua dan anak.

a. Diskusikan Kebutuhannya. Ketika akan memberikan gawai atau akses terhadap Internet, sebaiknya ada diskusi antara orangtua dan anak. Misalnya, mengapa harus memiliki gawai dan/atau mendapatkan akses ke Internet. Orangtua tidak perlu takut dianggap gagap teknologi atau tidak “kekininian,” karena justru di sinilah kesempatan berdialog dan belajar bersama dengan anak yang secara umum lebih paham teknologi. Kemudian tanamkan pemahaman sejak dini, bahwa membeli atau memiliki sesuatu harus berdasarkan kebutuhan, bukan karena latah atau mengikuti tren. Harus dipastikan juga, bahwa teknologi yang dipakai, termasuk biaya yang harus (rutin) dibayarkan, sesuai dengan kebutuhan.

b. Diskusikan Tanggung Jawabnya. Sebelum gawai atau Internet yang disediakan orangtua akan digunakan pertama kali oleh anak, pastikan bahwa orangtua dan anak sepaham dan sejalan dengan tanggung jawabnya masing-masing. Anak harus paham, bahwa orangtua berhak menanyakan untuk apa dan bagaimana teknologi tersebut digunakan. Orangtua juga harus secara konsisten melakukan komunikasi yang hangat kepada anaknya. Tak ada salahnya jika sesekali orang tua memeriksa isi ponsel anaknya, atau guru memeriksa isi ponsel muridnya. Tetapkan dan tegaskan konsekuensi kepada anak apabila gawai atau Internet terbukti disalahgunakan, semisal untuk mengakses konten negatif atau melakukan hal yang dapat merugikan dirinya sendiri atau orang lain.

c. Diskusikan Resikonya. Baik orangtua maupun anak harus memahami tentang penyalahgunaan, resiko ataupun hal negatif yang dapat timbul dari penggunaan gawai atau Internet; sekaligus cara pencegahan dan bagaimana menghindarinya. Beberapa hal negatif dari penggunaan teknologi tersebut misalnya cyberbully, terpapar konten negatif (pornografi, sadisme, judi online), menjadi korban dari pelanggaran privasi hingga ancaman predator (pedofil) online. Selalu ingatkan kepada anak untuk menceritakan kepada orangtua tentang hal yang membuatnya tidak nyaman saat menggunakan gawai atau Internet. Pun saat menggunakan media sosial, pelajari dan diskusikan bersama tentang kiat-kiat keamanan dan kenyaman penggunaannya.

2. Memperketat Aturan
Penerapan pola asuh penggunaan gawai melalui memperketat aturan adalah suatu pola asuh yang menuntut anak untuk taat pada aturan penggunaan gawai yang dibuat orangtua. Orangtua bersikap mengomando (mengharuskan/memerintah anak untuk melaksanakan aturan tanpa kompromi), bersikap kaku dan cenderung emosional dan bersikap menolak (Yusuf, 2010). Orang tua yang memperketat aturan menetapkan batasan-batasan dan kendali yang tegas dan kurang memberikan peluang kepada anak untuk berdialog secara verbal, sehingga orangtua yang memperketat aturan memegang kendali penuh dalam mengontrol anak-anaknya (Santrock, 2007). Orangtua menganggap bahwa seharusnya anak-anak menerima otoriter orang tua tanpa memberikan kesempatan bertanya.

Aturan orangtua tersebut biasanya bersifat mutlak. Orangtua mengutamakan kepatuhan dan menggunakan pemaksaan dalam membentuk tingkah laku yang diinginkan. Kepatuhan anak merupakan nilai yang diutamakan, dengan memberlakukan manakala terjadi pelanggaran. Orangtua menganggap bahwa anak merupakan tanggung jawabnya, sehingga segala yang dikehendaki orang tua diyakini demi kebaikan anak merupakan kebenaran. Anak kurang mendapat penjelasan yang memadai atas segala aturan, dan kurang dihargai pendapatnya (Lestari, 2012).

Orangtua memperketat aturan penggunaan gawai dengan mengatur jam akses dan lamanya akses tanpa adanya diskusi membahas isi/konten. Memperketat aturan dalam konteks media digital mengacu kepada aturan-aturan yang ditetapkan orang tua mengenai seberapa sering, kapan, dan konten apa yang dapat diakses (Wilson, 2004). Memperketat aturan dianggap orangtua memiliki dampak yang cukup efektif terhadap perilaku penggunaan gawai pada anak.

3. Membatasi Teknis Akses
Mengenai pentingnya pemasangan software filter, keterlibatan orangtua yang intensif, menekankan nilai dan norma keluarga serta meningkatkan kepercayaan dan keterbukaan antara orangtua dan anak. Masa ini merupakan masa yang tepat bagi kebanyakan orangtua untuk bercerita kepada anak dan berbagi informasi tentang hal-hal negatif yang ada dalam gawai. Tetapi di sisi lain, pemasangan software filter secara diam-diam ataupun tanpa persetujuan anak, bisa berdampak pada timbulnya resistansi anak kepada orangtua.

Kejujuran kepada anak menjadi penting, sehingga mereka tahu apa yang orangtua mereka lakukan dengan gawai mereka dan mengapa hal tersebut dilakukan. Jika orangtua ingin memasang software filter, haruslah dijelaskan kepada anaknya bahwa hal tersebut dilakukan untuk melindungi mereka dari materi-materi yang berbahaya atau tidak layak. Orangtua memiliki hak pula untuk melindungi anaknya melakukan pemblokiran ke situs-situs negatif yang ada dalam gawai. Pembatasan akses secara teknis sebagai pola asuh yang dapat diterapkan orangtua dalam penggunaan media digital pada anak misalnya melalui instalasi filter internet maupun software pengawasan (Livingstone dan Helsper, 2008).

4. Mengalihkan
Sebagai orangtua dituntut untuk bisa mengalihkan dan berusaha mengubah kebiasaan anak yang berjam-jam hanya untuk menggunakan gawai. Orangtua bisa juga mengalihkan anaknya dengan kegiatan yang membutuhkan gerak fisik yang disertai dengan alat bantu multimedia sehingga masih menyerupai gawai yang biasa anak gunakan. Ketika orangtua mengambil gawai dari anak dan mengubahnya dengan kegiatan lain, gantilah dengan kegiatan interaktif yang dapat mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, mental dan sosial anak. Orangtua juga bisa mengajak anak mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku, berolah raga, bermain ke taman atau lapangan bermain dan kenalkan mereka pada hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah mereka temui atau ketahui.

Penggunaan gawai pada anak yang berlebihan akan mempengaruhi perkembangan kepribadian anak. Anak pengguna gawai yang berlebihan akan menyebabkan kecanduan dan akan mempengaruhi berbagai macam perilaku negatif pada anak. Sebagai upaya untuk melindungi anak agar tidak menjadi kecanduan dalam penggunaan gawai maka orangtua memberikan alternatif bermain atau pengalihan. Bersambung…



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *