oleh

Pandemi, Momen Tumbuhkan Petani Milenial

Oleh: Lutfi Humaidi
Doktor Ilmu Penyuluhan Pembangunan IPB, ASN Balitbang Kementerian Pertanian dan Asisten KPAI 2010-2017

KepriDays.co.id-Pemerintah saat ini di tengah upaya bersama menanggulangi pandemi Covid-19, juga tak boleh berhenti berjuang untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sedang diterapkan pemerintah menyebabkan masyarakat membatasi aktivitasnya dan bekerja dari rumah. Ini momentum yang sangat tepat untuk menumbuhkan petani milenial berbasis digital online yakni seperti pengembangan startup di bidang pertanian. Bagi para petani milenial, sektor pertanian bisa lebih mudah lagi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.

Pertanian merupakan garda depan mencegah Covid-19, karena pangan merupakan penyangga kesehatan manusia. Kalau pangan terpenuhi, imunitas tubuh akan terjaga sehingga mampu melawan pandemi. Ketersediaan pangan ini ada peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan oleh petani milenial, mulai dari on farm hingga of farm dengan sistem daring. Belanja online mendorong pengiriman dalam waktu lebih singkat serta memutus mata rantai pasar sehingga masalah rantai pasok selama pandemi dapat teratasi.

Arif Satria Rektor IPB University di harian kompas (29/04/2020) mengemukakan, pandemi Covid-19 berdampak pada ketidakpastian distribusi barang. Di hulu, persoalan dsitribusi menyebabkan kelebihan suplai produksi pangan sehingga harga jual di tingkat petani jatuh. Di hilir, konsumen terbebani harga yang tinggi. Di tengah ancaman krisis pangan, jaminan stok harus ditopang distribusi yang baik sehingga petani tetap berproduksi.

IPB University telah menginisiasi pendampingan pemasaran kepada petani di 53 desa di 6 kabupaten/kota melalui Rumah Sayur, sebuah unit usaha pemasaran dan distribusi. Pendampingan diperuntukkan bagi petani hortikultura, tanaman perkebunan, tanaman pangan, dan peternakan. Semua pemasaran dilakukan melalui online, dan petani mendapatkan harga jual lebih tinggi dari pada menjual ke tengkulak atau pasar dan konsumen juga mendapatkan harga yang terjangkau.

*Success Story Petani Milenial di Tengah Pandemi*
Sekelompok petani milenial yang tergabung dalam Akademi Petani Milenial di Kota Batu telah memadukan pola lama dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Sistem pertanian terpadu sekaligus menerapkan teknologi Internet of Things (IoT). Anggota akademi ini memaksimalkan jejaring anak-anak muda dengan beragam keahlian. Tidak hanya berlatar belakang petani. Ada pula yang ahli di bidang teknologi informasi, bidang pemasaran, santri sampai penulis kreatif.

Rakhmad Hardiyanto, dari Kota Batu telah merintis Akademi Petani Milenial akhir Maret 2020 dan memiliki 16 anggota. Menggarap sayuran holtikultura dengan sistem pertanian hidroponik. Sistem pertanian hidroponik ini menerapkan teknologi IoT. Menggunakan pengendali mikro yang terhubung internet, untuk mendeteksi sensor dalam alat pengukur zat terlarut (TDS meter). Serta mekanisasi berupa aerator yang terhubung pada sensor pengatur waktu.

Rangkaian itu diprogram di aplikasi berbasis android. Sehingga petani milenial dapat menggunakan untuk melihat kelembaban tanah, suhu, mengontrol pengairan. Termasuk kebutuhan nutrisi tanaman dapat dipantau dari jarak jauh melalui gawai/HP android. Dengan teknologi ini juga membuat pertanian lebih efektif. Sayuran selada dan kale yang ditanam dengan teknologi ini cukup 25 hari, lebih cepat dari biasanya 30 hari. Soal kualitas ada jaminan. Teknologi sederhana tapi sangat bermanfaat.

Teknologi yang dirintis ini masih berbasis kontrol elektronik atau e-control untuk tanaman pertanian holtikultura. Saat ini tim teknologi mereka sedang mengembangkan e-commerce untuk memasarkan hasil panen.Melaui e-commerce, petani tidak lagi sekedar bercocok tanam, menjaga kualitas saja dan berpikir pasar. Tapi memfasilitasi distribusi produk pertaniannya melalui pasar daring.

Wisnu Saepudin (26) petani milenial asal Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat sukses menjadi petani Paprika di usia muda. Selama 4 tahun bertani sayuran Paprika dengan mengusung konsep kolaborasi dan edukasi, ia berhasil menjadi sosok pembaharu bagi milenial di kampungnya dan kini memiliki 22 petani binaan.

Teknologi informasi yang kian mendekatkan suplier ke buyer, memberi kemudahan tersendiri bagi Wisnu. Melalui internet ia mencari suplier bibit paprika yang masih mengandalkan Belanda dan Thailand. Wisnu menghubungi pemasok bibit dari Thailand melalui internet, kini Wisnu diajak berkolaborasi dalam penjual bibit juga. Ia memasok ke petani 10 gram itu Rp900 ribu berisi 1.200 biji.

Duta Petani Milenial (DPM) yang juga Direktur Mitra Tani Parahyangan di tengah pandemi Covid-19 memiliki tantangan tersendiri. Saat ini Sandi telah bekerjasama dengan Kedai Sayur Indonesia untuk memberdayakan petani binaan di wilayah Cianjur guna memenuhi kebutuhan masyarakat melalui sistem distribusi secara online.

Sebuah inisiasi baik yang diluncurkan DPM yaitu “gebrakan Duta Petani Milenial Sigap COVID-19” yang diwujudkan dengan program layanan online “AYOMART” yang siap memasarkan kebutuhan pangan masyarakat dari petani langsung. Gagasan ini berangkat dari kepedulian DPM terhadap kondisi masyarakat utamanya petani akibat merebaknya COVID-19.

Riza Amalia petani milenial asal Kediri yang sukses dengan usaha bisnis edamame/kacang Jepang. Di tengah pandemi Covid-19 omzet per minggunya terus menaik. Riza bahkan berperan ikut membantu petani edamame mendistribusikan hasil panennya melalui media online.

*Mendorong Petani Milenial Menjadi Agregator Bisnis*
Agrigator bisnis berperan penting dalam suatu sistem rantai nilai produk pangan dan pertanian. Agrigator bisnis adalah suatu model usaha daring (e-commerce) atau bisnis dengan situs khusus yang menjual produk barang atau jasa. Agregator menciptakan suatu lingkungan bisnis khusus, produsen dan penjual barang atau penyedia jasa harus berkompetisi secara sehat, sesuai dengan tuntutan atau ketentuan yang ditentukan konsumen (pengguna jasa).

Dalam satu decade terakhir agregator bisnis kini telah berkembang pesat, terutama karena semakin banyak melibatkan generasi milenial atau generasi Z. Setidaknya ada empat model besar agrigator bisnis menurut Bustanul Arifin dalam buku Analisis Ekonomi Pangan dan Pertanian yang dapat dikembangkan oleh petani milenial, yaitu:
1. Model Aplikasi e-Commerce. Sebagaimana kita ketahui bersama, konsep agregator bisnis berkembang melalui penjualan barang/jasa melalui teknik daring (e-commerce) yang dikembangkan melalui aplikasi dan situs khusus. Saat ini, model pertama ini telah banyak dikembangkan petani milenial untuk produk hilir pangan dan pertanian, karena kesiapan konsumen dan vendor untuk menggunakan aplikasi web-based bisnis.
2. Model Sumber Informasi (Clearing House). Model agregator bisnis yang kedua ini dapat digunakan petani milenial tidak sekedar berupa usaha untuk menjual-belikan produk orang, tapi benar-benar dapat berperan sebagai penyediaan informasi yang dibutuhkan pada setiap daerah. Produk pangan dan pertanian memiliki jadwal tanam dan jadwal panen yang tidak serempak di setiap daerah. Fluktuasi harga komoditas pangan dan pertanian banyak ditentukan oleh faktor musim dan manajemen stok. Sehingga pemanfaatan model agrigator kedua ini sangat penting untuk dapat melihat struktur pasar dan struktur industri.
3. Model Fungsi Penghubung (Spark-Plug). Model agrigator bisnis yang ketiga ini berperan sebagai penghubung modifikasi dari konsep forwarder biasa, tetapi disesuaikan dengan penggunaan teknologi data dan teknologi informasi komunikasi yang nyaris bekerja tanpa batas. Model ini disebut juga spark-plig (semacam busi pada mesin) karena mampu meningkatkan kecepatan aliran barang dan jasa, menjamin efisiensi dan kualitas produk. Model ketiga ini belum mampu menciptakan alternatif rantai nilai, karena tergantung pada sistem logistik, jaringan infrastruktur, dan struktur pasar yang terjadi, yang sampai sekarang masih menuai masalah di lapangan.
4. Model Komunitas (Desa-Preneur). Model agrigator bisnis yang keempat ini adalah berbasis komunitas atau organisasi sosial yang telah melaksanakan fungsi bisnis agregator. Model ini seperti pasar tani (farmers market) yang terjadwal dan menjadi ekspektasi insentif bagi pelaku pangan dan pertanian. Di negara-negara yang memiliki sistem koperasi maju dan berkembang, model empat ini juga maju pesat karena koperasi benar-benar bekerja untuk kepentingan anggota. Peningkatan kapasitas sumberdaya pedesaan dalam konteks desa-preneur akan meningkatkan perekonomian desa dan pengembangan sektor industri dan jasa.

Keempat model tersebut, dapat dijadikan petani milenial sebagai model agregator bisnis untuk membantu petani di sekitarnya. Sehingga komoditas pangan dan pertanian yang dihasilkan petani dapat secara cepat tersambung melalui ekosistem digital. (*)



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *