Raja Bayu bersama PGRI Anambas. Foto: Yolana
Advetorial – Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu Febri Gunadian, mengingatkan para guru agar tidak hanya berdiam diri dalam rutinitas mengajar. Guru dituntut untuk aktif, kreatif, dan selalu meningkatkan kemampuan demi mencerdaskan anak bangsa.
Menurut Bayu, zaman terus berubah, teknologi semakin maju, dan guru harus mampu mengimbanginya. Ia menegaskan, seorang pendidik tidak boleh ketinggalan.
“Kalau guru tertinggal, bagaimana dengan muridnya? Maka guru wajib terus meningkatkan kapasitas diri,” tegasnya saat membuka Pelatihan Deep Learning for Teacher PGRI Anambas di Tarempa, Selasa (9/9) kemarin.
Bayu menekankan pentingnya konsep deep learning sebagai pendekatan pembelajaran masa kini.
Bukan sekadar mengajar untuk mengisi kepala siswa dengan teori, tapi mengasah pola pikir agar lebih mendalam, bermakna, dan tahan lama.
Deep learning, kata Bayu, berdiri di atas tiga pilar utama: mindful (kesadaran), meaningful (bermakna), dan durable (berkelanjutan).
“Mindful itu siswa harus hadir penuh, tubuh dan pikiran. Meaningful itu materi harus relevan dengan kehidupan nyata. Durable itu ilmu yang diajarkan bertahan lama dan bisa dipakai dalam hidup,” tegasnya lantang.
Ia mengingatkan, sekolah tidak boleh lagi terjebak pada pola lama. Menghafal tanpa memahami sudah bukan zamannya. “Anak-anak kita harus dibekali dengan pengetahuan yang bisa mereka pakai dalam dunia nyata. Jangan sampai mereka pintar teori, tapi bingung menghadapi kenyataan hidup,” ucapnya keras.
Bayu juga menegaskan pentingnya kolaborasi. Pendidikan, menurutnya, bukan hanya tanggung jawab guru semata. Kepala sekolah, pengawas, orang tua, dan masyarakat harus turun tangan bersama.
“Kalau hanya guru yang bekerja, hasilnya timpang. Harus ada ekosistem pendidikan yang sehat, baru deep learning bisa berjalan,” seru Bayu.
Tak hanya itu, ia menyoroti soal literasi digital. Guru harus melek teknologi agar tidak gagap dalam era serba digital. Aplikasi, media interaktif, hingga platform digital harus dimanfaatkan demi menunjang pembelajaran.
“Jangan sampai siswa lebih pintar dari gurunya soal teknologi. Guru harus bisa memimpin, bukan ditinggalkan,” katanya dengan nada tegas.
Pelatihan yang digelar PGRI Anambas ini disebutnya sebagai langkah nyata untuk mempersiapkan guru menghadapi tantangan zaman. Ia berharap para peserta tidak hanya datang mendengar, tapi juga menerapkan ilmu yang diperoleh di ruang kelas.
“Kalau setelah pelatihan ini guru tetap sama saja, itu rugi besar. Saya ingin ada perubahan nyata. Anak-anak kita harus merasakan manfaatnya. Jangan teori doang, harus praktik,” pungkas Bayu membakar semangat para guru. ***