Anambas, KepriDays.co.id – Senyum haru itu pecah ketika Bupati Anambas, Aneng, memeluk erat istrinya, Shinta Aneng, usai mengukuhkannya sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Anambas.
Pelukan itu bukan sekadar simbol kasih sayang, melainkan doa, restu, dan energi baru bagi Shinta yang kini mengemban amanah besar.
Air mata nyaris jatuh dari sudut mata Shinta. Di balik senyumnya, tersimpan keraguan yang pernah begitu kuat.
“Awalnya dia tidak mau. Dia bilang, biarlah saya saja di rumah, urus anak-anak dan usaha. Tidak perlu ikut-ikut jabatan,” tutur Aneng dengan suara lembut, mengenang perbincangan dengan sang istri.
Kisah itu membuat suasana ruang pengukuhan begitu syahdu.
Banyak yang tak menyangka, di balik tampilannya yang tegar, Shinta pernah memilih mundur.
Ia merasa cukup menjadi ibu bagi anak-anaknya, bukan untuk berdiri di depan organisasi besar.
Namun kehidupan sering menghadirkan kejutan. Dorongan dari Istri Wakil Bupati, Kustiorini, mengubah langkah Shinta.
Dengan kata-kata sederhana, ia meyakinkan bahwa PKK bukan sekadar organisasi, melainkan ladang ibadah. Dorongan itu akhirnya meluluhkan hati Shinta.
Hari itu, ketika pelukan suami menyalurkan kekuatan, Shinta tahu jalan pengabdian ini tidak akan mudah.
Tapi bersama doa dan dukungan keluarga, ia yakin bisa melangkah.
Dalam kesempatan itu, Aneng memberi pesan yang menggugah. “PKK bukan hanya tentang program kerja. PKK adalah hati. Maka jagalah hati masyarakat. Jangan pernah berdiri di menara gading, tapi berbaurlah, agar setiap langkah kita diterima dengan tulus,” ucapnya mantap.
Kalimat itu membuat hadirin terdiam sejenak. Tak sedikit yang merasakan getaran dalam hati.
Aneng kemudian menambahkan dengan suara tegas, “Mengurus organisasi bukan seperti membalikkan telapak tangan. Kita harus bersatu, jangan saling sikut. Musuh di luar lebih mudah terlihat, tapi musuh di dalam lebih berbahaya,”.
Pesan itu menjadi pengingat keras bagi para pengurus PKK. Aneng juga menegaskan, jabatan tidak boleh dititipkan.
“Saya tegaskan di sini, jangan ada yang menitip jabatan lewat istri saya. Kalau ada urusan, datanglah lewat kami bertiga: Bupati, Wakil Bupati, dan Sekda,” katanya tegas, disambut tepuk tangan hadirin.
Shinta lalu berdiri, berusaha menahan haru yang kian menyeruak. Ia tahu, amanah ini lebih besar dari dirinya.
“Jujur, ini tidak mudah. Tapi saya percaya, bila kita bekerja dengan hati, InsyaAllah hasilnya akan indah,” katanya dengan suara yang bergetar, membuat mata banyak orang kembali berkaca-kaca.
Ia menegaskan bahwa prioritas utama PKK saat ini adalah menekan angka stunting di Anambas.
Baginya, itu bukan sekadar program, melainkan perjuangan menyelamatkan generasi.
“Anak-anak kita adalah pewaris negeri. Kalau hari ini mereka tumbuh dengan gizi buruk, maka besok bangsa ini akan rapuh. Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi,” ucap Shinta.
Selain itu, Shinta juga mengingatkan pentingnya membina keluarga dari dalam.
“Kalau kita ingin masyarakat sejahtera, mulailah dari keluarga sendiri. Kalau kita bisa memberi contoh, insyaAllah masyarakat akan percaya dan mengikuti,” katanya mantap.
Di ruang pengukuhan itu, banyak mata yang basah. Bukan hanya karena kata-kata Shinta, tetapi karena melihat cinta dan pengorbanan yang begitu nyata.
Sebuah keluarga yang rela menunda kenyamanan demi amanah besar untuk masyarakat. Aneng dan Shinta hari itu tidak hanya tampil sebagai Bupati dan Ketua PKK.
Mereka adalah pasangan yang saling menguatkan. Cinta mereka menjadi sumber energi, yang kemudian ditransfer untuk ribuan keluarga di Anambas.
Di perbatasan negeri, jauh dari hiruk pikuk kota besar, kisah ini mengajarkan: pengabdian besar selalu lahir dari keluarga kecil yang penuh cinta.
Dari pelukan seorang suami, seorang istri menemukan kekuatan baru untuk mengabdi.
Wartawan : Yolana
Editor : Roni
