Oleh: Dr. Myrna Sofia, SE., M.Si
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim
Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau
Local Expert Kanwil Ditjen Perbendahaan (DJPb) Provinsi Kepulauan Riau
Potensi Energi Baru Terbarukan Dinilai Mampu Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan dan Memperkuat Ketahanan Energi Kepulauan Riau
Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pionir pengembangan energi hijau di Indonesia. Dengan wilayah yang didominasi lautan serta memiliki potensi energi surya, angin, arus laut, dan biomassa yang melimpah, Kepri dinilai memiliki modal kuat untuk mempercepat transisi menuju energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi daerah.
Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Tantangan geografis sebagai daerah kepulauan, tingginya biaya distribusi energi, serta ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil masih menjadi hambatan utama dalam mewujudkan sistem energi yang tangguh dan berkelanjutan.
Pembangunan ekonomi Kepulauan Riau tidak dapat dilepaskan dari kemampuan daerah dalam menyediakan energi yang cukup, andal, terjangkau, dan ramah lingkungan. Sebagai provinsi yang lebih dari 96 persen wilayahnya berupa lautan dengan ribuan pulau yang tersebar, sistem penyediaan energi menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan wilayah daratan.
“Ketahanan energi bukan hanya berbicara mengenai ketersediaan listrik, tetapi bagaimana energi mampu menjadi penggerak aktivitas ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Bagi daerah kepulauan seperti Kepulauan Riau, ketahanan energi merupakan kebutuhan strategis yang menentukan daya saing daerah di masa depan,”
Hingga saat ini pasokan listrik di sejumlah wilayah Kepri masih bertumpu pada pembangkit berbahan bakar diesel dan gas. Kondisi tersebut menyebabkan biaya penyediaan energi relatif tinggi dan rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Di beberapa pulau kecil, keterbatasan infrastruktur juga menyebabkan akses listrik belum sepenuhnya optimal.
Di sisi lain, Kepri justru memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang sangat besar. Intensitas penyinaran matahari yang tinggi sepanjang tahun membuka peluang pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Selain itu, karakteristik wilayah pesisir dan perairan memberikan potensi pengembangan energi angin, energi arus laut, hingga biomassa yang berasal dari limbah pertanian maupun sampah organik.
Sejumlah inisiatif telah mulai dijalankan, di antaranya pembangunan PLTS komunal pada pulau-pulau terluar, penerapan sistem PLTS hybrid, serta pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya atap pada berbagai fasilitas publik. Program-program tersebut menjadi langkah awal dalam memperluas akses energi bersih bagi masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Manfaat transisi energi tidak hanya dirasakan pada sektor kelistrikan. Pengembangan EBT memiliki dampak ekonomi yang luas melalui penciptaan lapangan kerja hijau (green jobs), tumbuhnya industri pendukung, meningkatnya produktivitas usaha mikro dan kecil, serta meningkatnya daya tarik investasi di daerah.
Selain memberikan manfaat ekonomi, penggunaan energi bersih juga mendukung pengurangan emisi karbon, meningkatkan kualitas lingkungan hidup, serta mempercepat pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 9 tentang Infrastruktur dan Inovasi, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Adapun rekomendasi strategis untuk mempercepat transformasi energi di Kepulauan Riau. Di antaranya pemberian insentif fiskal bagi investasi energi terbarukan, penyederhanaan proses perizinan proyek EBT, pengembangan pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga bayu, pembangunan jaringan smart grid dan microgrid antarpulau, serta pemanfaatan skema pembiayaan inovatif seperti green bonds dan blended finance.
Keberhasilan transisi energi juga membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang kompeten. Oleh karena itu, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan lembaga penelitian perlu memperkuat kolaborasi dalam riset, inovasi teknologi, dan pengembangan kapasitas tenaga kerja di bidang energi terbarukan. Kerja sama dengan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN juga dinilai penting untuk mempercepat transfer teknologi dan investasi hijau di Kepulauan Riau.
Apabila potensi energi terbarukan dapat dikelola secara terintegrasi dengan dukungan kebijakan yang konsisten, Kepulauan Riau tidak hanya mampu meningkatkan kemandirian energi, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi daerah di tengah dinamika ekonomi global.
“Transformasi energi bukan lagi sebuah pilihan, tetapi kebutuhan. Kepri memiliki seluruh potensi untuk menjadi laboratorium energi hijau bagi wilayah kepulauan di Indonesia. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat akan menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan,”
Melalui penguatan ketahanan energi berbasis Energi Baru Terbarukan, Kepulauan Riau diharapkan mampu menjadi model pembangunan kepulauan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.(***)
