Anambas, KepriDays.co.id – Ketika listrik berulang kali padam dan kesabaran masyarakat Kepulauan Anambas mulai habis, Bupati Aneng memilih berada di tengah warga.
Aneng tidak sekadar mendengar keluhan dari balik meja, tetapi turun langsung menghadapi masyarakat yang meluapkan kemarahan kepada PLN.
Amarah itu akhirnya pecah dalam aksi demonstrasi di Kantor PLN Tarempa. Kekecewaan yang menumpuk akibat gangguan listrik membuat massa datang menyuarakan protes.
Bahkan, situasi memanas ketika kantor PLN menjadi sasaran lemparan ikan dan cumi-cumi busuk.
Aneng hadir untuk meredam keadaan. Ia berhadapan langsung dengan masyarakat yang datang membawa kemarahan dan tuntutan.
Bagi Aneng, kemarahan warga tidak bisa dipandang semata-mata sebagai gangguan ketertiban.
Di balik aksi tersebut, ada keluhan masyarakat yang harus didengar. Listrik yang kerap padam telah mengusik kehidupan sehari-hari, mulai dari aktivitas rumah tangga, pekerjaan, hingga usaha warga yang bergantung pada pasokan listrik.
Ia memahami, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar penjelasan. Warga ingin kepastian kapan listrik kembali normal dan langkah nyata apa yang dilakukan untuk mengatasi gangguan tersebut.
“Saya memilih mendekat, mendengarkan, dan membuka ruang komunikasi di tengah situasi yang penuh tekanan,” katanya, Kamis (22/10/2026).
Bahkan, ia mengajak massa menuju rumah dinasnya untuk melanjutkan pembicaraan. Langkah itu menjadi upaya mengalihkan ketegangan dari halaman kantor PLN ke tempat yang lebih tenang.
Aneng ingin menunjukkan bahwa pintu pemerintah daerah tetap terbuka bagi masyarakat, termasuk ketika mereka datang dengan kekecewaan.
“Ini masyarakat saya, saya harus mendengar. Demo itu enggak masalah, artinya itu kan aspirasi masyarakat kami,” kata Aneng.
Di Anambas, persoalan listrik bukan sekadar lampu yang tiba-tiba padam. Ketika pasokan terputus, pekerjaan rumah tangga ikut terganggu, pelaku usaha kesulitan menjalankan aktivitas, dan warga harus menyesuaikan kegiatan mereka dengan ketidakpastian waktu pemadaman. Kondisi tersebut membuat persoalan listrik menjadi keresahan bersama.
Aneng pun berupaya mendorong penyelesaian melalui langkah konkret. Salah satu kebutuhan mendesak adalah memperkuat kemampuan pembangkit agar pasokan listrik dapat lebih terjaga.
Upaya itu terlihat dari kedatangan tiga mesin pembangkit yang didatangkan langsung dari Jakarta.
Dua unit mesin MTU masing-masing berkapasitas 300 kilowatt (kW), sedangkan satu unit mesin Caterpillar memiliki kapasitas 800 kW. Ketiganya diharapkan membantu memperkuat kemampuan pembangkit listrik di Anambas.
Kedatangan mesin-mesin tersebut menjadi langkah penting di tengah kebutuhan listrik masyarakat yang mendesak. Namun, pengadaan mesin bukan berarti persoalan otomatis selesai.
Sikap Aneng yang seperti itu mendapat apresiasi dari warga yang menilai pemimpin daerah semestinya tidak menjauh ketika masyarakat sedang menghadapi persoalan.
“Luar biasa Pak Aneng. Saat masyarakat marah karena listrik terus padam, beliau hadir langsung, mau mendengar keluhan, bahkan mengajak warga berdiskusi di rumah dinas. Kami membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memberi penjelasan, tetapi juga mau berdiri bersama masyarakat dan mendorong solusi nyata,” demikian apresiasi yang dapat disampaikan warga.
Pada akhirnya, persoalan listrik Anambas tidak hanya menguji kemampuan pembangkit, tetapi juga menguji kehadiran pemerintah saat masyarakat membutuhkan jawaban.
Wartawan: Yolana
Editor: Roni
