oleh

Salaman, Antara Tradisi dan Budaya


Oleh :
Dian Fadillah, S.Sos
Pemerhati Jalan-jalan
Lembayung Collection

Kepridays.co.id-Kejadian luar biasa karena Corona atau COVID 19 merupakan kondisi terbesar permasalahan dunia pada decade ini. Sinyalemen hebat ini membuat beberapa negara HEBAT melakukan LOCKDOWN sebagai sebuah antisipasi kejadian agar tidak merebak lebih luas dan sebagaimana pemberitaan disamping kata epidemi, isolasi, karantina dan sebagainya yang erat hubungannya dengan social distanding.

Istilah-istilah itu sering disebut-disebut dalam setiap pemberitaan terkait Corona. Istilah social distancing yang dipercaya bisa mencegah penyebaran virus Corona. Sebenarnya Lockdown diambil dari bahasa Inggris, artinya adalah terkunci.

Apabila dihubungkan dengan kasus ini arti lockdown adalah mengunci seluruh akses masuk/keluar dari suatu daerah maupun negara yang bertujuan mengunci suatu wilayah agar virus Corona tidak menyebar lebih jauh lagi dengan menutup semua fasilitas publik diantaranya : Sekolah, transportasi umum, tempat umum, perkantoran, bahkan harus ditutupnya pabrik dan beraktivitas.

Implementasinya secara umum di lapangan dengan membatasi aktivitas warganya di keramaian dan di luar rumah sehingga kegiatan-kegiatan seperti festival, pertandingan olah raga dan seni budaya daerah dimundurkan dengan waktu yang ditetapkan nantinya.

Menurut World Health Organization (WHO), COVID-19 menular melalui orang yang telah terinfeksi virus corona. Penyakit dapat tersebar melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut ketika seseorang yang terinfeksi virus sedang bersin atau batuk.

Tetesan itu mendarat di sebuah permukaan yang disentuh. Apakah itu mata, hidung, mulut dan yang lainnya. Virus corona juga bisa menyebar ketika tetesan kecil itu dihirup oleh seseorang ketika berdekatan dengan yang terinfeksi sehingga berdekatan, bersentuhan termasuk bersalaman jadi suatu alasan yang menjadi penyebab penyebaran corona.

Menjaga jarak 1 meter lebih dari orang yang sakit sehingga saat ini belum ada penelitian yang menyatakan virus corona COVID-19 bisa menular melalui udara.

Dikutip dari WHO Selasa (17/3/2020) dengan gejala demam, kelelahan, dan batuk kering yang diikuti dengan sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare serta gejala-gejala ringan terjadi secara bertahap meskipun beberapa orang yang terinfeksi yang tidak menunjukkan gejala apa pun dan tak merasa tidak enak badan.

Sekitar 80% dapat pulih dari penyakit tanpa perlu perawatan khusus dan sekitar 1 dari setiap 6 orang yang mendapatkan COVID-19 sakit parah dan mengalami kesulitan bernapas.

Oleh karena hal ini sangat krusial dan menjadi trending topik pada saat ini sehingga SALAMAN atau sering dikenal dengan jabat tangan menjadi sorotan sebagai suatu tradisi disamping kebiasaan orang Timur dalam melakukan penyambutan singkat yang sudah tersebar di seluruh dunia, dimana dua orang memegang tangan satu sama lain.

Dalam pelaksanaannya disertai dengan gerakan ke atas-bawah singkat pada tangan yang dipegang dengan memakai tangan kanan umumnya dianggap merupakan etiket yang sebenarnya sebagaimana yang dilansir oleh Wikipedia.

Tradisi seperti ini sudah dilakukan berbagai negara sejak lama. Sebagai masyarakat timur seseorang saling berjabatan tangan saat bertemu orang baru, menyapa orang yang lebih dihormati, ataupun saat bertemu teman lama. Tradisi yang sama juga sudah dimulai pada zaman Yunani Kuno yang digunakan untuk memastikan bahwa orang kita temui saat itu sedang tidak membawa senjata tersembunyi.

Menggenggam tangan membuktikan bahwa tangan orang yang kita temui itu benar-benar kosong. Saat berjabat tangan pun biasanya mereka akan menggoyang-goyangkan atau menggetarkan tangan lawan bicara.

Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada senjata lain yang disembunyikan di lengan mereka.
Dalam kontekstual Salam atau bersalaman merupakan cara yang harus dilanjutkan secara turun termurun bagi seseorang untuk secara sengaja mengkomunikasikan kesadaran akan kehadiran orang lain untuk menunjukkan perhatian, untuk menegaskan atau menyarankan jenis hubungan atau status sosial antar individu atau kelompok orang yang berhubungan satu sama lain.

Salam sebagai cara seseorang secara sengaja mengkomunikasikan kesadaran akan kehadiran orang lain, untuk menunjukkan perhatian, untuk menegaskan atau menyarankan jenis hubungan atau status social antar individu atau kelompok orang yang berhubungan satu sama lain.

Seperti juga cara komunikasi lain, salam juga sangat dipengaruhi budaya dan situasi yang dapat berubah akibat status dan hubungan social dan dapat diekspresikan melalui ucapan dan gerakan, atau gabungan dari keduanya serta sering diikuti dengan sebuah percakapan.

Apakah salaman sebagai tradisi dan kebiasaan yang baik ini harus dihentikan atau dilanjutkan meskipun adanya permasalahan Corona ? Tentunya kembali kepada pribadi masing-masing apakah dihentikan sementara atau harus dilanjutkan dengan kehati – hatian yang tinggi termasuk harus dilihat dahulu siapa subyek (manusia) yang akan disalami.

Orang-orang yang menjadi prioritas utama dan terdekat termasuk keluarga serta handai taulan yang sudah dikenal secara internal mungkin tidak akan jadi masalah. Khusus untuk orang luar yang baru dikenal / orang lain yang belum dikenal sebaiknya menghindari salaman yang dimaksud tanpa bermaksud tidak menghargai sehingga tinggal kita menjada keamanan dan kesehatan diri agar lebih terjamin dengan tetap menggunakan masker untuk pengamanan diri.

Sebenarnya ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam menyikapi covid 19 yang saat ini sedang menjadi pembicaraan Hot di seantero dunia saat ini termasuk dengan menghindari keramaian masyarakat terutama masyarakat yang bervariasi corak dan ragamnya di tempat umum dan meningkatkan ketahanan tubuh untuk menghindari potensi terinfeksi virus ini. Mari kita ajak diri pribadi dan keluarga serta sahabat untuk bersabar agar permasalahan ini segera berlalu dan kita mendapatkan Indonesia yang kondusif. ***



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *