oleh

Isolasi Berbuah Kreasi

Oleh: Lutfi Humaidi
Doktor Ilmu Penyuluhan Pembangunan IPB, ASN Balitbang Kementerian Pertanian, Wakil Sekretaris GP. Ansor Cabang Kota Tanjungpinang, dan Dosen STAINU Kepri

KepriDays.co.id-Menjadi kreatif bukan hanya sebuah keharusan yang dimiliki mereka yang bekerja dalam dunia industri kreatif. Kemampuan kreatif suatu keharusan dari semua profesi karena akan dapat membantu kita dalam memecahkan berbagai persoalan yang sedang dihadapi.

Sebenarnya tidak harus ada situasi darurat dulu baru kita dapat memunculkan kreasi. Kemampuan kreatif dapat kita gali, pelajari dan kembangkan dalam setiap kondisi dan situasi. Namun situasi dan kondisi mendesaklah yang memang sering dialami seseorang sehingga mampu menghasilkan kreasi.

Kreasi sering kali muncul disaat kita dalam kondisi dan situasi darurat seperti pandemi Covid-19 yang sedang terjadi sekarang ini. Hal ini dapat dikatakan bahwa kemampuan kreatif tumbuh karena by accident bukan by design. Mana yang terjadi pada diri anda?

Konon, William Shakespeare dan Isaac Newton justru menjadi super kreatif semasa wabah melanda dunia pada awal abad ke-17. Pada saat itu, Newton sekeluarga harus mengurung diri di Lincolnshire dan ketika itulah ia menemukan dasar-dasar teori gravitasi, optik, dan bahkan prinsip-prinsip kalkulus. Shakespeare juga menulis puisi dan drama terbaiknya ketika ada wabah yang menyebabkan semua teater di London ditutup.

Kondisi wabah pandemi covid-19 saat ini memaksa kita untuk menerapkan physical/social distancing , distance learning, pray at home, dan work from home, guna menekan lajunya penyebaran virus yang sudah memakan banyak korban. Di Indonesia data dari www.covid19.go.id (30/04/2020) terkonfirmasi 10.118 kasus, dengan perincian 7.804 dirawat, 792 meninggal, dan 1.522 sembuh.

Kita harus sadar bahwa di masa pandemi yang sepertinya belum ada tanda-tanda akan berakhir, isolasi diri di rumah merupakan pilihan yang terbaik disertai dengan berdoa kepada Allah yang maha kuasa. Isolasi diri di rumah yang terlalu lama biasanya membuat seseorang bersikap pasif, diam, merasa terkungkung, bahkan apatis. Dengan kondisi dan situasi semacam ini menuntut kita untuk berinovasi dan berkreasi.

Kondisi Terisolasi, Berkreasi dan Beradaptasi Tak Terbatasi
Kekhawatiran akan kesehatan dan keselamatan jiwa mengakibatkan gerak kita semua dibatasi. Beribadah bersama tidak dianjurkan, bersalaman yang berpengaruh besar terhadap emosi telah dilarang. Bertemu tatap muka semakin sulit dan diminta menjaga jarak bila berada bersama dalam satu ruangan. Kita menjadi semakin menyadari betapa pentingnya hubungan antar manusia.

Berhubungan dengan orang lain yang biasanya dianggap lumrah, saat sekarang menjadi demikian berharga. Beruntung kita hidup pada zaman internet sehingga komunikasi masih bisa dijalankan.

Namun, setelah satu bulan lebih menjalankan karantina mandiri, kita merasakan adanya kebutuhan lain. Kita ingin duduk berhadapan, ngopi bersama, belajar di kelas, beribadah di masjid, gereja, wihara, dan rumah-rumah ibadah lainnya, hingga bekerja di kantor bersama. Untungnya sebagai makhluk tertinggi ciptaan Allah, manusia selalu berupaya mencari jalan keluar, beradaptasi dan berkreasi.

Berada di rumah dengan pandangan yang itu-itu saja bisa membangkitkan rasa bosan. Kita telah mengalami banyak terkendala bahkan terpenjara. Dalam situasi isolasi ini, tentunya hampir semua manusia di dunia ini ditarik dari zona nyaman mereka. Banyak orang menyadari bahwa berada dalam zona nyaman (comfort zone) akan membuat kita tidak kreatif dan inovatif.

Menurut para ahli, dampak kebosanan pada manusia tidak selalu negatif. Ada lima tingkatan kebosanan, dimulai dari sikap masa bodoh terhadap situasi, kemudian mengalibrasi, lalu mulai mencari-cari cara untuk kemudian bereaksi. Bila reaksi ini membuahkan hasil, individu tidak masuk dalam situasi apatis. Namun, bila tetap “mentok” dan tidak berhasil, bisa-bisa ia menjadi apatis.

Dalam situasi mencari-cari ini, pikiran kita berusaha mencari stimulasi, berpikir keras dan menggali informasi apa yang sudah pernah ada di pikiran kita. Dalam proses ini, timbullah pertanyaan dalam pikiran “mengapa” saya tidak mencoba melakukan sesuatu?. Di sinilah ide kreatif mulai bekerja.

Bagaimana cara menggali isi pikiran kita agar dapat menemukan ide-ide kreatif? Pertama, kita bisa mengawali dengan minat dan passion. Hal apa saja yang ingin sekali dilakukan, tetapi belum terjadi. Gali beragam ide yang muncul di pikiran Anda.

Kedua, jadilah orang yang open minded, menerima masukan dari semua orang termasuk beragam fakta dan informasi meskipun mungkin tampaknya bertolak belakang dengan apa yang kita ketahui selama ini.

Ketiga, bermainlah dengan percobaan-percobaan kecil yang sebenarnya bisa membuka kesempatan kita untuk belajar dari kesalahan dengan kemungkinan koreksi dan eksplorasi ulang. Di sinilah kemungkinan silver lining dari situasi pandemi Covid-19 ini bisa tercipta dan menjadi terobosan baru.

Ingat baru-baru saja dunia seni tercipta terobosan baru yang dilakukan penyanyi Didi Kempot. Penyanyi campursari ini menggelar Konser Amal dari Rumah pada Sabtu (11/4/2020) yang disiarkan langsung oleh KompasTV. Konser Amal dari Rumah itu digelar untuk mengumpulkan dana guna membantu masyarakat yang terkena dampak pandemi virus corona atau Covid-19. Tak main-main, antusias masyarakat dalam berdonasi begitu besar. Setelah donasi ditutup sekitar pukul 22.26 WIB, total dana yang terkumpul mencapai Rp 5,3 miliar.

Ide yang sama juga terjadi dunia pesantren, menjadi titik tolak kemajuan pengajian-pengajian Ramadhan di pesantren berbasis live streaming atau online. Seperti yang terjadi di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, setelah para santrinya dipulangkan atau memang tidak diperkenankan kembali ke pesantren untuk ngaji selama Ramadhan karena adanya pandemi virus covid-19. Akhirnya para kyai, gus, ning dan ustadznya banyak yang dipaksa oleh kondisi untuk mengadakan pengajian online atau live streaming. Ini dilakukan untuk menjaga rutinitas (Istiqomah) pengajian Ramadhan agar bisa diikuti khususnya para santri, dan alumni serta masyarakat secara luas yang saat ini sedang berada di rumah saja. Dengan demikian, santri, alumni dan masyarakat tidak kehilangan kesempatan untuk tetap mengaji.

Dunia pendidikan sekolah dan perguruan tinggi pun beradaptasi. Aktivitas belajar mengajar tatap muka di sekolah dan kampus diganti lewat e-learning, belajar jarak jauh secara darling. Meski masih menemukan banyak kelemahan dengan sistem distance learning pihak sekolah dan kampus dituntut memiliki jiwa kreatif, inovatif dan solutif bagaimana metode mengajar jarak jauh agar dapat efektif.

Dunia kerja tidak mau ketinggalan untuk melakukan adaptasi. work from home (WFH) bukan lagi merupakan hal yang sulit untuk dilakukan, apalagi dengan pesatnya perkembangan teknologi. WFH tentunya bisa jadi alternatif pada saat kondisi pandemik saat ini. Masih banyak lagi kreasi dan adaptasi seseorang di tengah pandemi sekarang ini. Manusia memang makhluk yang diciptakan tuhan memiliki kemampuan kuat untuk berkreasi dan beradaptasi, tinggal kita mau atau tidak.



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *