oleh

Komunikasi Keluarga Kunci Utama di Masa Pandemi

Oleh: Lutfi Humaidi
Doktor Ilmu Penyuluhan IPB, ASN Balitbang Kementerian Pertanian, Wakil Sekretaris Ansor Kota Tanjungpinang, dan Asisten KPAI 2010-2017

KepriDays.co.id-Kasus positif Covid-19 pertama kali di Indonesia dikonfirmasi pada 2 Maret 2020, yang menimpa seorang instruktur dansa dan ibunya yang tertular dari seorang WNA asal Jepang. Hingga kini setelah hampir tiga bulan tren infeksi Covid-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda melandai. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, tambahan kasus Covid-19 harian melebihi angka 600. Dikutip dari laman Covid19.go.id pada Jumat (22/5/2020), Indonesia melaporkan tambahan sebanyak 634 kasus baru sehingga total mencapai 20.796 kasus. Pasien sembuh diketahui bertambah 219 menjadi 5.057 orang dan kasus kematian menjadi 1.326 orang dengan tambahan 48 kasus.

Pandemi Covid-19 ini berdampak besar tidak hanya pada kondisi kesehatan, tetapi juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti bidang sosial, ekonomi, keagamaan, pendidikan, pertanian, perkembangan teknologi dan sains, serta kondisi unit terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga. Seluruh lapisan masyarakat dihimbau untuk melakukan sosial distancing yang kemudian diubah menjadi physical distancing atau pembatasan jarak interaksi dan menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih Sehat), bahkan tidak sedikit negara yang memberlakukan sistem lockdown atau karantina wilayah untuk menekan angka penyebaran Covid-19.

Pemerintah Indonesia telah menghimbau untuk melakukan pembatasan aktifitas masyarakat dan mengeluarkan kebijakan work from home (WFH), study from home, dan pray at home. Strategi jarak sosial ini dilakukan untuk mengurangi kontak orang yang terinfeksi dengan kelompok besar dan memutus mata rantai penyebaran virus. Cara yang dapat dilakukan seperti belajar jarak jauh, bekerja di rumah, dan beribadah di rumah, membatasi perjalanan dan menunda segala hal yang berkaitan dengan pengumpulan orang secara massal. Setiap warga diharuskan melakukan karantina mandiri di rumah dan mengurangi aktifitas di luar rumah.

Sebelum terjadi pandemi Covid-19 tak banyak pasangan suami istri atau orang tua pada saat di rumah mampu menyediakan waktu luang bersama anaknya. Rumah menjadi tempat menumpang bagi sebagian besar keluarga yang ada di perkotaan. Numpang tidur, numpang mandi, tanpa adanya interaksi humanis penghuninya demi alasan pekerjaan. Ayah dan ibu yang harus berangkat kerja dari pagi hingga sore bahkan kalau mengalami kemacetan di jalanan bahkan sampai tengah malam. Sesampainya di rumah ayah dan ibu sudah mengalami kelelahan. Anak juga setiap hari beraktivitas berangkat sekolah dari pagi dan melanjutkan aktivitas dengan les/bimbel hingga sore. Begitu juga sesampainya di rumah tidak sedikit anak ikut merasakan kecapekan. Itulah rutinitas yang dilakukan sebagian besar keluarga yang ada di perkotaan.

Pandemi Covid-19 akhirnya memaksa kita untuk menjalankan semua aktivitas dari rumah. Tidak sedikit yang mengaku bahwa beraktivitas dari rumah menjadi momen untuk memperkuat kualitas hubungan dengan pasangan maupun anak. Masa karantina mandiri yang dilakukan sekaligus menjadi kesempatan untuk mengganti masa-masa bersama keluarga yang terlewatkan saat sebelumnya harus bekerja. Namun, ternyata tidak semua keluarga merasa kebersamaan ini adalah sebuah anugerah. Rupanya, masa pandemi Covid-19 juga ikut menyumbangkan dampak negatif terhadap kerukunan keluarga dan bahkan mengakibatkan meningkatnya konflik dalam rumah tangga. Mengapa demikian? salah satu penyebab utama adalah komunikasi keluarga tidak dapat berjalan efektif.

*Membangun Komunikasi Keluarga di saat Pandemi*
Pakar komunikasi, Hafied Cangara (2002), menjelaskan unsur komunikasi dalam sebuah keluarga memiliki kesamaan dengan komunikasi pada umumnya. Sumber dan penerimanya tentu berasal dari anggota keluarga yaitu ayah, ibu, dan anak. Pesan yang disampaikan secara tatap muka maupun dengan menggunakan media atau saluran komunikasi. Isi pesan menyangkut informasi, ilmu pengetahuan, nasehat, instruksi (himbauan) bahkan dapat dengan contoh dan teladan (perilaku).

Karantina dan isolasi diri di rumah masing-masing tentu membuat segala aktivitas sebelumnya menjadi berbeda. Segala aktivitas fokus dilakukan di dalam rumah, mulai dari bekerja, sekolah, ibadah dan aktifitas lainnya selama 24 jam dalam sehari. Termasuk interaksi dan komunikasi antar anggota keluarga satu dengan yang lainnya.

Meski terdengar sepele, komunikasi adalah kunci utama untuk menentukan kelanjutan interaksi setiap pasangan. Komunikasi yang buruk akan menyebabkan kesalahpahaman yang berujung pada perdebatan yang tidak ada habisnya. Selama pandemi Covid-19 ini, masalah komunikasi yang sering ditemui sering kali berhubungan dengan pembagian pekerjaan rumah tangga, memasak, membersikan rumah, mendampingi anak belajar, mengasuh anak, bahkan hingga persoalan sepele seperti hal-hal kecil tentang perbedaan cara meletakkan barang di tempat tertentu. Seolah-olah ayah dan ibu mengulang kembali proses beradaptasi dengan kebiasaan pasangan, padahal sudah menjalani pernikahan selama belasan bahkan puluhan tahun.

Komunikasi yang buruk akan lebih mudah mengaduk-aduk emosi tanpa menghasilkan solusi untuk menyelesaikan masalah perbedaan pendapat. Inilah yang mengakibatkan banyak pasangan akhirnya saling menyalahkan, berbicara dengan nada tinggi atau membentak, adu mulut, hingga berakhir dengan kekerasan fisik maupun verbal.

Untuk meminimalisir terjadinya konflik keluarga dan mendukung terciptanya keluarga harmonis, maka perlu dibangun komunikasi keluarga yang lebih efektif. Momen di rumah saja yang dikampanyekan oleh pemerintah seharusnya menjadi ajang untuk mempererat ikatan antar anggota keluarga. Stay at Home sebagai bagian dari gerakan pencegahan Covid-19, merupakan waktu yang tepat untuk merajut komunikasi keluarga yang baik.

Sebagai kunci utama di masa pandemi, komunikasi yang efektif harus diterapkan. Berbicara dengan nada keras atau membentak tidak hanya memblokir percakapan, tapi juga membuat lawan bicara cenderung merespons dengan cara yang sama. Oleh karena itu, Ayah dan ibu harus benar-benar memperhatikan cara agar komunikasi menjadi efektif dan tidak menuai pertengkaran. Hal ini tentu tidak mudah, karena bentuk komunikasi yang dibutuhkan bukan hanya soal apa yang disampaikan, namun juga mengetahui apa saja hal yang dapat mendukung komunikasi keluarga dapat berjalan efektif.

*Tips yang dapat Mendukung Komunikasi Keluarga di Masa Pandemi*
1. Keterbukaan (self disclosure), yakni bersikap terbuka dan jujur mengenai perasaan/pemikiran anggota keluarga tanpa adanya rasa takut dan khawatir untuk menegungkapkannya. Seorang suami bersikap jujur dan terbuka kepada istri, istri tidak menyembunyikan apapun kepada suami, orang tua yang harus berkata jujur kepada anaknya, dan juga sebaliknya, anak yang harus selalu diajarkan untuk jujur dan tidak menyembunyikan apapun kepada orang tuanya.
2. Peluang kesetaraan berbicara, yakni memberikan kesempatan berbicara, mendengarkan, bersama menyelesaikan konflik, bahkan dengan mengajarkan anak untuk berkomunikasi dan menjadi pendengar yang baik.
3. Menciptakan perasaan positif, yakni dilakukan dengan memulai berpikir positif terhadap diri kita sendiri sehingga kita pun akan mulai belajar berpikir positif terhadap orang lain. Meminimalisir kecurigaan kepada pasangan, tidak menuduh anggota melakukan hal negatif tanpa adanya bukti, dan apabila ada bukti lakukan dengan komunikasi yang humanis.
4. Kesamaan pemahaman, communication and similiarity are positively related. Meski tidak dipungkiri bahwa setiap individu pasti memiliki perbedaan satu sama lain, namun hal tersebut sangat mungkin untuk diminimalisir. Mulai berfokus pada penyelesaian masalah dan bukan pada perbedaan ataupun mengungkit kesalahan masing-masing. Dengan adanya komunikasi, permasalahan yang ada dalam sebuah keluarga dapat dibicarakan dengan menentukan solusi terbaik.
5. Kemitraan seimbang, yakni suami dan istri membagi waktu dan aktivitas dengan saling mendukung/membantu pekerjaan rumah tangga, termasuk dalam mendampingi anak menjalankan aktivitas belajar dari rumah.
6. Sering memuji dan menenangkan pasangan, yakni perbanyaklah saling ucapan sayang dan segera minta maaf apabila ada keselahan atau pasangan kurang berkenan.
7. Mengubah gaya hidup keluarga, yakni menjalankan kehidupan yang lebih sederhana dengan cara melakukan penghematan semua pengeluaran dan hindari pemborosan.
8. Jangan abaikan keluarga, yakni jangan abaikan kepentingan anak dan pasangan. Apabila anak menangis dan butuh pertolongan berhenti sebentar aktivitas pekerjaan anda dan segera tolong anak, dan kemudian kalau anak sudah nyaman anda dapat melanjutkan pekerjaan, atau bisa juga bekerja di dekat anak. Atur jadwal bersama anggota keluarga.
9. Mengola waktu dan aktivitas, yakni atur waktu dan aktivitas sebaik mungkin. Ada kegiatan individu dan ada kegiatan Bersama keluarga. Untuk menghilangkan kejenuhan, maka ciptakan waktu pribadi untuk kegiatan individu yang disukai dan disepakati bersama. (*)



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *