oleh

Abdul Malik dan Rida Paparkan Sejarah Pembentukan Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga

Tanjungpinang, KepriDays.co.id -Sejumlah pengurus Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga menggelar silaturahmi bersama sejumlah insan pers, Sabtu (2/7/2022) kemarin di Kedai Kopi Pinggir Laut, Tanjungpinang, Kepri.

Prof. Abdul Malik selalu Budayawan di Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga menjelaskan, pertemuan antara pengurus dengan insan pers ini dalam rangka untuk memberikan informasi tentang pembentukan Perhimpunan tersebut.

Ia menyampaikan, Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga ini sebenarnya sudah berdiri sejak Mei 2012 silam. Sebelumnya, nama Perhimpunan ini adalah Perhimpunan Agung Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga. Dan, sekarang namanya Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga.

“Dulu nama Agung dalam Perhimpunan ini ada, tapi sekarang Agung-nya di hilangkan,” ujarnya.

Perhimpunan yang berubah nama ini sudah dibuat akta notaris dan terdaftar di Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) maupun di sahkan oleh Kemenkumham.

Bahkan, selama 10 tahun berdirinya perhimpunan ini sudah banyak aktivitas dan kegiatan yang dilakukan seperti seminar, halal-bihalal dan lain sebagainya.

Di tempat yang sama, Dato’ Rida K Liamsi selaku Menteri Senior di Perhimpunan tersebut menyampaikan, yang menjabat selaku Yang Dipertuan Besar (YDB) pada Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga ini adalah Tengku Hendra Syafri Riayat Syah Ibni Tengku Husien Saleh dan Yang Dipertuan Muda (YDM) adalah Raja Haji Supri.

“YDB Tengku Hendra sedang berada di Jakarta dan Raja Haji Supri ada bersama kita sekarang,” sebutnya.

Rida menjelaskan, Tengku Hendra ini merupakan keturunan Sultan Mahmud Riayat Syah atau Pahlawan Nasional. Sedangkan, Raja Haji Supri merupakan keturunan Upu Daeng Perani.

Perbedaan Tengku dan Raja adalah, Tengku merupakan keturunan dari Sultan atau YDB dan Raja dari keturunan YDM.

Sesuai dengan kesepakatan nenek moyang dahulu dan sesuai AD/ART, kepengurusan harus mengikuti garis keturunan besar. Sehingga, kedua nama tersebut punya hak untuk dijadikan YDB dan YDM pada Perhimpunan ini.

“Perhimpunan yang dibuat bukan mengada-ngada, karena memang dari garis keturunan dan tidak mau melanggar adat-istiadat,” katanya.

Dia menambahkan, perhimpunan ini didirikan semata-mata untuk kembali mengingat nilai-nilai budaya yang sudah dikembangkan sejak zaman Kesultanan Riau-Lingga terdahulu.

“Nah, agar nilai-nilai budaya tersebut tidak hilang, maka kita kembali menggali dan mengembangkan nilai-nilai budaya tersebut baik di Kepri, Indonesia bahkan secara dunia. Lagi pula hal ini dilakukan supaya anak cucu selalu ingat apa yang dilakukan oleh orang tua zaman dahulu,” jelasnya.

Adapun nilai-nilai budaya yang dikembangkan yakni nilai sejarah, warisan, adat-istiadat nikah dan kawin, kuliner, moral, gurindam 12, nilai agama dan lain sebagainya.

Pengurus Perhimpunan Zuriat dan Kerabat Kesultanan Riau-Lingga yang hadir dalam silaturahmi ini, diantaranya Raja Haji Supri (YDM), Prof. Abdul Malik, Rida K Liamsi, Tengku Fakhrizal Tun selaku Bendahara Seri Paduka Raja, Raja Kamaruddin selaku Perdana Dalam dan Raja Azman selaku Wazir Brida Hukum dan HAM.

Wartawan: Amri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.