Haji Dharma Setiawan Ajak Majelis Taklim Tanjung Sengkuang Tanamkan Nilai Empat Pilar Dalam Keluarga di Era Digital

Batam, KepriDays.co.id – Keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kebangsaan kepada anak di tengah perkembangan teknologi digital. Keteladanan orang tua, komunikasi yang terbuka, dan kebiasaan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab menjadi bagian dari pengamalan Empat Pilar MPR RI dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut menjadi perhatian Anggota MPR/DPD RI Daerah Pemilihan Kepulauan Riau, H. Dharma Setiawan, dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Tahap VI bersama BKMT Tanjung Sengkuang. Kegiatan berlangsung di halaman Masjid Darul Ihsan, Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, Senin (14/09/2026), mulai pukul 14.00 WIB, dengan jumlah peserta sebanyak 150 orang.

Mengangkat tema Penguatan Peran Keluarga dalam Menanamkan Nilai Empat Pilar MPR RI di Era Digital, sosialisasi membahas penerapan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika melalui kebiasaan yang dekat dengan kehidupan keluarga.

Dalam pemaparannya, Dharma Setiawan menekankan bahwa pendidikan Pancasila dapat dimulai dari rumah. Orang tua memberikan contoh melalui pelaksanaan ibadah sesuai keyakinan, ucapan yang santun, pembagian tanggung jawab secara adil, serta musyawarah ketika menghadapi perbedaan pendapat.

Keteladanan yang konsisten membantu anak memahami hubungan antara nilai yang diajarkan dan tindakan sehari-hari.

Pengamalan nilai tersebut juga perlu hadir ketika keluarga menggunakan media sosial. Tidak mempermalukan orang lain, tidak menyebarkan fitnah, dan memilih kegiatan digital yang bermanfaat menjadi bentuk tanggung jawab dalam berinteraksi.

Orang tua turut berperan menunjukkan bagaimana teknologi dapat digunakan dengan tetap menghormati sesama.

Lebih lanjut, materi sosialisasi menghubungkan pemahaman terhadap UUD NRI Tahun 1945 dengan penghormatan terhadap martabat setiap anggota keluarga. Anak perlu dibiasakan menyampaikan pendapat dengan sopan, mendengarkan pandangan orang lain, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Kesepakatan mengenai penggunaan gawai dapat dibangun melalui dialog agar anak memahami alasan aturan yang diterapkan di rumah.

Terkait persatuan NKRI, Dharma Setiawan mengajak peserta membiasakan pemeriksaan sumber, tanggal, dan konteks berita sebelum meneruskannya. Sikap menahan diri diperlukan ketika menerima pesan yang memancing kemarahan terhadap kelompok tertentu.

Kebiasaan ini membantu mencegah penyebaran informasi yang dapat mengadu domba masyarakat dan mengganggu kerukunan.

Kepedulian terhadap bangsa juga diwujudkan melalui keterlibatan dalam kehidupan lingkungan. Kerja bakti, kegiatan sosial lintas kelompok, dan kesediaan membantu sesama menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan serta rasa memiliki terhadap bangsa dan negara.

Sementara nilai Bhinneka Tunggal Ika diperkenalkan melalui penghormatan terhadap perbedaan suku, agama, budaya, dan kebiasaan.

Anak perlu dibimbing agar tidak mengejek identitas teman atau mengucilkan orang yang berbeda. Dalam lingkungan Majelis Taklim, sikap tersebut dapat dipraktikkan dengan menghormati tetangga, menjaga ucapan dalam percakapan daring, dan bekerja sama dalam kegiatan kemanusiaan.

Majelis Taklim turut mendapat perhatian sebagai mitra pembelajaran keluarga. Pendidikan keagamaan dapat dihubungkan dengan pembiasaan nilai kebangsaan melalui diskusi, pendampingan orang tua, dan kegiatan sosial.

Persoalan sehari-hari, seperti perselisihan dalam grup WhatsApp atau kebiasaan membagikan foto anak, dapat menjadi bahan pembahasan yang mudah dipahami peserta.

Sebagai tindak lanjut, laporan kegiatan memuat usulan pendampingan literasi digital bagi orang tua, penyediaan bahan bacaan kebangsaan untuk keluarga, serta kegiatan bersama orang tua dan generasi muda. Usulan tersebut diarahkan untuk membantu peserta menerapkan materi sosialisasi secara lebih nyata di rumah maupun dalam pergaulan masyarakat.

Melalui pembiasaan waktu bersama tanpa gawai, kesediaan mendengarkan pengalaman anak di internet, dan keteladanan dalam bermedia sosial, keluarga diharapkan menjadi tempat tumbuhnya perilaku yang mencerminkan nilai Empat Pilar. Peran Majelis Taklim dapat memperkuat upaya tersebut melalui pembelajaran bersama yang berkelanjutan.

Editor: Roni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *