oleh

9 Tradisi Umat Buddha Rayakan Waisak

Dunia, KepriDays.co.id – Dilansir dari The Star, berikut ini beberapa ritual yang dijalankan saat hari Waisak menurut beberapa ahli agama Buddha di Thailand.

1. Doa dan merenung dengan tenang.

Saat hari Waisak, umat Buddha akan mengunjungi kuil-kuil lokal ataupun kuil besar untuk melakukan doa. Umat Buddha juga umumnya melakukan perenungan akan diri dan kehidupan secara tenang. Kuil-kuil dari berbagai wilayah biasanya memiliki program tersendiri untuk memperingati Hari Waisak. 

2. Mengenakan pakaian putih.

Walaupun tidak ada pengkhususan warna yang dikenakan seseorang saat pergi ke kuil di Hari Wesak, para ahli mengungkapkan bahwa para penyembah dianjurkan untuk memakai pakaian putih. Hal ini karena warna putih dianggap mencerminkan kemurnian. Maka, menggunakan pakaian putih disarankan ketika berdoa ke kuil.

3. Menerapkan kelima sila.

Kebanyakan umat Buddha sudah mempraktekkan lima sila ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-harinya. Kelima sila itu adalah tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelecehan seksual, berbohong dan mengonsumsi minuman keras. Umat Buddha juga diajarkan untuk menahan diri dari berbicara buruk tentang orang lain. Serta tidak terlibat dalam kegiatan negatif.

4. Lampu minyak atau lilin.

Menyalakan lampu minyak selama Hari Waisak adalah pemandangan yang umum. Lampu minyak dianggap mengusir kegelapan dan juga melambangkan penerangan bagi kehidupan seseorang.

Untuk yang menggunakan lilin, biasanya berbentuk bunga lotus. Bunga lotus memiliki arti tersendiri. Bunga ini tumbuh di air yang keruh, sehingga melambangkan mekarnya keindahan dari dunia yang berantakan. Menurut mitosnya, Sang Buddha juga muncul secara magis dari bunga tersebut. 

5. Pohon Bodhi.

Pohon Bodhi adalah tempat Buddha duduk bermeditasi di Bodh Gaya, India. Di pohon inilah juga Buddha mencapai pencerahannya. Umat Buddha sangat menghormati pohon Bodhi dan berdoa disana. Para pengikut Buddha juga percaya bahwa ada dewa, makhluk spiritual yang baik, mengelilingi pohon-pohon tersebut.

Namun, pada saat yang sama, para ahli agama mengingatkan adalah baik untuk berdoa dan mencari keberkahan dari situ. Tetapi, umat Buddha tidak boleh bergantung padanya.

6. Menjadi vegetarian.

Menjadi pemandangan umum untuk melihat makanan vegetarian yang disajikan di kuil-kuil pada Hari Waisak. Banyak umat Buddha percaya bahwa merupakan suatu kebaikan untuk memulai hari dengan pemurnian. Di mana hal ini berarti tidak melakukan pembunuhan, bahkan terhadap hewani.

7. Mengibarkan bendera Buddha.

Bendera Buddha memiliki enam garis vertikal berwarna biru, kuning, merah, putih dan oranye. Bendera ini dirancang oleh J.R. de Silva dan Kolonel Henry S. Olcott pada tahun 1800-an. Banyak kuil yang membagikan bendera secara gratis kepada para umat. Dan bertujuan agar para pengikut Buddha menggantung dan mengibarkannya di rumah selama hari Waisak.

8. Menawarkan sedekah.

Menawarkan sedekah kepada para biarawan dapat berupa makanan atau kebutuhan dasar, seperti perlengkapan mandi dan persediaan medis. Para bhikkhu melakukan kegiatan makan hanya satu kali sehari (pada siang hari). Sehingga, banyak umat yang datang ke kuil menjadikan hari Waisak juga sebagai kesempatan relawan dalam persiapan makanan.

9. Mandi ‘Sang Buddha’.

Para umat yang datang ke kuil saat hari Waisak sebagian banyak yang langsung melakukan ritual suci ini. Menurut para ahli agama, mandi Buddha adalah ritual yang sangat populer. Hal ini karena kegiatan tersebut dianggap akan memurnikan hati dan pikiran dari keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan.

Praktik mandi Buddha lainnya di daerah Thailand melaksanakan kegiatan berbeda. Para umat juga menempelkan daun emas ke Phra Phom, dewa berwajah empat, dan juga patung Luang Phor Tuad, seorang biarawan terhormat dari Thailand. (RNN)



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *