oleh

Urgensi Petani Milenial Maju dan Modern

    Oleh Lutfi Humaidi
    Doktor Ilmu Penyuluhan Pembangunan IPB, ASN Balitbang Kementan dan Asisten KPAI 2010-2017

    Populasi penduduk Indonesia menduduki urutan keempat dunia, dengan jumlah 267 juta jiwa. Urutan ini, di bawah Cina, India dan Amerika Serikat (Data The Spectator Index). Tahun 2030, diprediksi Indonesia akan mengalami bonus demografi, dimana populasi usia produktif akan mencapai puncaknya.

    Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan, Badan Pusat Statistik Indonesia, jumlah muda (usia produktif) mencapai 60%, lebih besar dari usia balita/anak dan usia tua (non produktif). Diperkirakan, menurut Bappenas, tahun 2045, penduduk Indonesia akan mencapai 321 juta jiwa dengan usia produktif, diperkirakan mencapai 209 juta jiwa (65%).

    Fenomena peningkatan jumlah penduduk usia produktif, secara signifikan, membuahkan hasil berupa bonus demografi. Fenomena bonus demografi seperti pisau bermata dua, yang dapat memberikan peluang sekaligus tantangan.

    Di sektor pertanian bonus demografi juga menjadi tantangan tersendiri, apalagi terkait dengan Sumberdaya Manusia (SDM) bidang pertanian. Hal ini dikarenakan, jumlah tenaga kerja pertanian, semakin menipis, dikarenakan animo pertanian pada generasi milenial menurun, dan ini merupakan ancaman bagi pembangunan pertanian mendatang.

    Pertanian memiliki peranan penting sebagai penyedia pangan bagi manusia apalagi saat ini ditengah adanya wabah Covid-19. Kebutuhan akan pangan tidak bisa terhenti walaupun ada aturan pemerintah untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah di rumah. Petani harus terus tetap turun ke sawah untuk mengelola lahan, merawat tanamannya, dan memanennya. Petani adalah sebagai pahlawan pangan. Kalau petani juga dilarang turun ke sawah, maka kebutuhan pangan pasti akan terhenti.

    Berkaca pada jumlah populasi penduduk dunia yang terus meningkat berkisar 7,3 milyar jiwa dan diperkirakan akan bertambah menjadi 9,6 milyar jiwa pada tahun 2050 adalah tantangan besar yang harus diantisipasi. Upaya adaptasi di bidang produksi pangan mutlak perlu dilakukan, lebih lagi regenerasi petani merupakan salah satu upaya nyata untuk mencegah terjadinya ancaman global baik saat ini maupun masa mendatang. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa masyarakat Indonesia masih banyak yang menggangtungkan kehidupannya dengan bermata pencaharian sebagai petani. Namun, jumlah SDM petani yang berumur produktif telah mengalami penurunan yang signifikan. Mayoritas petani di Indonesia didominasi oleh petani berumur di atas 45 tahun.

    Dalam mengantisipasi situasi tersebut, maka perlu adanya suatu gerakan yaitu program aksi Gerakan Regenerasi petani milenial maju dan modern menyongsong swasembada pangan menuju lumbung pangan dunia 2045. Gerakan ini, oleh Kementerian Pertanian, melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian diterjemahkan dalam berbagai program.

    Program pertama yaitu Program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian. Harapannya, melalui program ini, akan tumbuh petani muda modern dengan jiwa wirausaha pertanian, dengan korporasi petani muda modernnya, yang menyedot tenaga kerja muda wilayah perdesaan. Upaya ini, dilakukan, karena banyaknya lulusan pertanian yang bekerja di luar sektor pertanian, karena menganggap bahwa sektor non pertanian memberikan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan.

    Di samping itu, saat ini, sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi penyelenggara pendidikan pertanian cenderung lebih sebagai pencari kerja (job seeker) daripada pencipta lapangan pekerjaan (job creator). Hal ini kemungkinan, sistem pembelajaran yang diterapkan saat ini, umumnya masih terfokus pada bagaimana menyiapkan para mahasiswa yang cepat lulus dan mendapatkan perkejaan, bukannya lulusan yang siap menciptakan pekerjaan.

    Kondisi seperti ini kalau terus dibiarkan, maka Indonesia diambang krisis petani, suatu hal memilukan, dimana Indonesia sebagai negara agraris. Menumbuhkan minat bertani pada generasi milenial harus ditopang dengan kebijakan, gerakan yang massif serta meyatukan visi seluruh stakeholder untuk menarik minat pemuda menjaga eksistensi kaum tani masa depan.Diantara faktor utama bagi generasi milenial yang tidak mau terjun di dunia pertanian adalah mempersepsikan bertani itu kotor, butuh kerja keras, lama mendapatkan uang, jadul, tidak keren, dekat dengan kemiskinan, dan pilihan terakhir.

    Pada jangka panjang, kondisi tersebut berdampak pada menurunnya jumlah tenaga kerja terdidik yang bekerja di sektor pertanian, dan pada akhirnya berimbas pada kelangkaan tenaga terdidik di sektor pertanian.Dan ini merupakan ancaman yang perlu disikapi, mengingat bonus demografi Indonesia sudah ada di depan mata dan mencapai puncaknya pada tahun 2030.

    Menjadi Petani Milenial Maju dan Modern
    Dalam rangka upaya menumbuhkan rasa cinta pertanian dan jiwa wirausaha pertanian di kalangan generasi milenial, maka perlu diantaranya;

    1) Diharapkan pemerintah dan masyarakat desa dapat berperan lebih untuk dapat menyadarkan para pemuda di desanya betapa penting sektor pertanian karena usaha pertanian berpusat dari pedesaan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah krisis regenerasi petani milenial di pedesaan. Sebagai cara agar milenial tetap tertarik dengan bidang pertanian adalah dengan memberdayaakan pemuda. Pemerintah desa harus mencari cara memotivasi milenial agar bisa memperoleh pendapatan dari sektor pertanian.

    2) Adanya lembaga/kampus/fakultas/jurusan pertanian yang mendorong mahasiswanya untuk menjadi agrisociopreneur atau pengusaha pertanian, sekaligus penggerak dan pencipta lapangan pekerjaan di sektor pertanian;
    3) Mengubah kesan kaum milenial bahwa sektor pertanian bukan hanya pada budidaya tanaman di sawah saja, melainkan ada ragam yang lain, yaitu usaha agribisnis dari subsistem hulu sampai hilir, dengan peluang kerja dan usaha yang sangat luas. Selain itu, ada pula nuansa wirausaha pertaniannya, sehingga para lulusan perguruan tinggi pertanian dapat terbentuk menjadi job creator (pencipta lapangan pekerjaan). Lulusan perguruan tinggi pertanian dapat menjadi wirausaha muda pertanian, dalam kemasan petani milenial maju dan modern yang berjiwa wirausaha pertanian;

    4) Mengenalkan dan mengajarkan petani muda mengenai kelayakan usaha tani, manajemen organisasi dan manajemen usaha. Petani dikenalkan inovasi dan teknologi pertanian serta pemakaian alsintan modern dalam usahataninya. Sehingga pertanian yang dilaksanakan bersifat modern (penghematan cost tenaga kerja (buruh) dengan penggunaan mesin dan peralatan pertanian. Selain itu, petani diajarkan bagaimana membangun jejaring kemitraan usaha dan pengelolaan pembiayaan dalam usahatani;

    5) Penguatan kompetensi dan profesionalisme usahatani petani milenial melalui Gerakan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) dalam mengembalikan fungsi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) kepada tugas aslinya yaitu sebagai pusat data informasi, pusat pembelajaran untuk penyuluh dan petani, pusat gerakan pembangunan pertanian, pusat konsultasi agribisnis, dan pusat pemngembangan jejaring kemitraan. Dalam BPP, petani milenial akan banyak dikenalkan mengenai teknologi tepat guna dalam rangka pengembangan usaha tani.

    6) Adanya kebijakan yang berpihak pada petani milenial dan kerjasama multi sector yakni, pemerintah, perguruan tinggi, penyuluh, swasta, dan Lembaga perbank-kan. Sehingga dalam menghadapi persoalan pertanian, strategi dan sinergi generasi muda perlu diterapkan yaitu dengan strategi value chain (rantai nilai). Generasi milenial dilibatkan dalam proses praproduksi, produksi, pasca produksi, serta promosi dan pemasaran.

    Dari enam upaya menumbuhkan petani milenial maju dan modern di atas, apabila dilaksanakan secara terus menerus dan berkelanjutan, bukan suatu hal yang tidak mungkin terjadi, regenerasi petani di Indonesia terus berkembang dan bertambah banyak, dan turut membantu akselerasi pencapaian swasembada pangan menuju lumbung pangan dunia 2045. (*)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *