oleh

Introduksi Teknologi Pemanfaatan Daun Kelapa Sawit Sebagai Pakan Sapi di Kabupaten Bintan

Kepridays.co.id-Ketersediaan pakan sapi dapat berasal dari hijauan padang rumput dan limbah pertanian / limbah perkebunan seperti jerami padi, brangkasan jagung serta pelepah daun kelapa sawit. Kabupaten Bintan mempunyai luasan perkebunan kelapa sawit paling besar dibandingkan dengan kabupaten lain yakni seluas 1.093 ha dengan produksinya sebesar 1.135 ton (BPS, 2017).

Pemangkasan terhadap pelepah kelapa sawit dapat mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman. Pemangkasan dapat dilakukan 1 atau 2 kali dalam setahun. Menurut Suhada (2014), dalam pemangkasan rata – rata pelepah yang diturunkan sebanyak 7 pelepah/pohon, pemangkasan pemeliharaan rata-rata pelepah yang dapat diturunkan 9 pelepah/pohon dan pemangkasan panen rata rata pelepah yang diturunkan sebanyak 2 pelepah/pohon. Setiap hektar kebun kelapa sawit secara teoritis dapat menampung 143 pokok tanaman, sehingga setiap kali ada Tajuk tanaman yang terlalu rapat/terlalu “gondrong” maupun terlalu kurang/ overpruning dapat menyebabkan laju fotosintesis menjadi tidak optimal.

Laju fotosintesis yang tidak optimal dapat menyebabkan distribusi asimilat khususnya asimilat untuk pembentukan buah juga menjadi tidak optimal. Pengaruh manajemen pelepah terhadap produktivitas tanaman akan sangat terasa pada areal dengan kondisi tanah dan iklim yang relatif miskin / kurang sesuai bagi tanaman kelapa sawit (Turner and Gillbanks, 1974 dalam Puslit Kelapa Sawit). Oleh sebab itu maka agar proses fotosintesis dan produktivitas yang dihasilkan tanaman optimal, sebaiknya untuk tanaman muda (≤ 8 tahun) jumlah pelepah dipertahankan pada kisaran 48-56 pelepah, sedangkan pada tanaman tua (> 8 tahun) dipertahankan pada kisaran 40-48 pelepah.

Pemangkasan saat pemeliharaan maupun saat panen menghasilkan banyak limbah perkebunan. Dalam 1 ha kebun kelapa sawit dapat menghasilkan 25 ton per tahun sama dengan 145 Kg per pohon kelapa sawit. Penumpukan limbah sawit dan tankos di perkebunan diatasi dengan melakukan pembakaran. Akan tetapi dengan terbitnya SK Mentan No.KB 550/268/Mentan/VII/1997, tentang pelestarian lingkungan, upaya pembakaran limbah tankos mulai ditiadakan. Menurut Murjoko (2017), bahwa selama kurun waktu 5 tahun (2012-2016) komoditas kelapa sawit mengalami tren yang cenderung fluktuatif. Hal ini dapat disebabkan karena produksi yang belum stabil. Integrasi ternak sapi dengan tanaman kelapa sawit sangat sesuai diterapkan untuk wilayah – wilayah yang mempunyai potensi kedua komoditi tersebut. Pelepah daun kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Zahari et al. (2002) menyatakan bahwa ketersediaan dan pemanfaatan berbagai produk sampingan di perkebunan kelapa sawit, khususnya daun kelapa sawit dapat menghemat biaya.

Hasil penelitian tim peneliti BPTP Kepri menunjukkan bahwa dengan pemberian daun sawit segar pada sapi yang sedang produksi dengan cara dicacah dengan menggunakan mesin pencacah atau parang dengan tingkat 60% + probiotik bioplas dan 0% + probiotik bioplas diperlihatkan perbedaan yang sangat nyata antara yang tidak diberikan dengan yang tidak diberikan seperti dalam Tabel 1. Sedangkan performances anak sapi yang diberikan tambahan pakan dari pelepah sawit cenderung lebih baik . Terlihat pada gambar sapi anak dari induk sapi yang diberi rumput saja (kiri) dan anak sapi dari induk sapi yang diberi makan pelepah sawit 60% (Kanan)

Penulis adalah drh Salfina, MP Peneliti Madya BPTP Balitbangtan Kepri


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *