oleh

Meretas Kerancuan Pemahaman Makna Lebaran dan Idulfitri

Oleh: Ahmad Farhan Choirullah
Peneliti, Penulis Dan Dosen Bidang Hukum Islam

KepriDays.co.id– Tak dapat dipungkiri, bahwa sebagaian besar ummat Islam di Indonesia memaknai lebaran dengan mudik, pulang kampung, pakaian baru dan juga makanan. Pemahaman semacam ini nampaknya sudah mengakar kuat di dalam benak dan pikiran masyarakat muslim Indonesia, sehingga tidak bisa dipisahkan apalagi ditinggalkan.

Perlu dipahami bahwa lebaran merupakan sebuah bagian dari frame tradisi yang hidup di masyarakat. Setiap orang dapat merayakan dan melaksanakannya baik tua maupun muda tanpa melihat kepada status sosialnya.

Berbeda halnya dengan idulfitri. Tidak setiap orang dapat merayakan yang namanya idulfithri. Misalnya seorang muslim yang menunaikan puasa Ramadan maupun yang tidak menunaikannya, yang beribadah dengan sungguh-sungguh maupun yang tidak beribadah mereka semua dapat dan boleh melaksanakan lebaran tanpa ada pihak manapun yang melarangnya, tapi tidak berarti merayakan idulfithri.

Kenapa dikatakan tidak merayakan ‘idul fithri? Karena pada hakikatnya selalu cost yang harus dikeluarkan dari seluruh bentuk perbuatan yang telah kita lakukan. Mau seorang muslim yang berbuat baik ataupun tidak berbuat baik, mau menjadi pahlawan ataupun penjahat kelas kakap pastinya selalu terdapat ganjaran atas apa saja yang telah dilakukannya.

Terdapat sebuah karikatur antara seorang dokter gigi baru dengan empat orang pasiennya. Pasien pertama masuk ke dalam ruang praktik dan dicabut giginya tanpa pembiusan, karena terasa sakit kemudian secara spontan dia berteriak histeris sehingga terdengar oleh tiga orang pasien yang sedang berada di ruang tunggu, akibat teriakannya itu ketiga pasien secara serentak meninggalkan tempat klinik tersebut.

Lalu setelah pasien pertama selesai dan bertanya kepada dokter gigi mengenai biayanya, sang dokter menjawab: “Rp. 200 ribu”. Tentu jawaban sang dokter membuat pasien terkejut karena biasanya biaya yang dikeluarkan hanya sebesar Rp. 50 ribu. Dengan tegas sang dokter menjawab: “siapa suruh anda teriak hingga membuat ketiga pasien saya meninggalkan ruang klinik ini”.

Dalam frame agama, idulfithri “kembali kepada kesucian” tentu memiliki makna yang lebih dalam ketimbang lebaran, karenanya untuk mencapai kepadanya diperlukan tatacara sebagaimana disebutkan pada akhir ayat QS. Al-Baqarah (185):

.وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “…………… dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.

Pertama, menyempurnakan bilangan puasa dan semangat Ramadhan. Untuk kembali kepada kesucian, hendaklah seorang muslim melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dalam ini menyempurnakan bilangan ibadah puasanya.

Kalimat bilangan dalam hal ini sering terjadi ikhtilaf ada yang berpendapat 29 hari dan ada pula yang berpendapat 30 hari, namun sebaiknya mengikuti ketentuan yang telah disepakati oleh pemerintah melalui Kementerian Agama dan mayoritas ‘Ulama. Penting untuk dicatat, nampaknya kata menyempurnakan di sini tidak hanya dalam bilangan hari melaksanakan ibadah puasa Ramadan saja, tetapi juga termasuk menyempurnakan semangat Ramadhan di bulan-bulan lainnya. Jika hal ini diimplementasikan di dalam kehidupan sehari-hari, insya allah kita akan memperoleh rahmat dan ridha’ Allah SWT.

Kedua, mengumandangkan nama Allah SWT (bertakbir). Ketahuilah berperang melawan musuh yang tidak kasat mata (hawa nafsu) itu lebih berat ketimbang berperang dengan mengangkat senjata. Berkat kemuliaan dan kebesaran Allah SWT kepada para hambanya sehingga kita mampu melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.

Berpuasa tidak berarti mengkebiri, namun lebih kepada mengontrol hawa nafsu guna mengarahkan ke dalam koridornya sesuai dengan norma-norma yang digariskan agama. Karenanya, setelah menyempurnakan ibadah puasa Ramadhan kita diperintahkan untuk mengagungkan Allah SWT (takbiran) sebagai bentuk rasa syukur atas segala anugerah yang telah dilimpahkan-Nya.

Ketiga, bertakbir atas hidayah yang diberikan oleh Allah SWT. Sudah menjadi sebuah kebenaran yang mutlak bahwa hidayah merupakan hak prerogatif Allah SWT, dimana tidak terdapat sedikit pun ruang bagi manusia maupun makhluk lainnya atas hak tersebut, kecuali memberikan kabar, peringatan dan menyeru kepada kebaikan. Sebagai manusia beriman tentunya menjadi suatu keharusan bagi kita untuk bersyukur, karena memperoleh hidayah Allah SWT.
Sebab tidak semua manusia yang dilahirkan ke persada bumi ini mereka memperoleh hidayah, walaupun dia masih keluarga dengan manusia-manusia pilihan Allah SWT seperti Kan’an putera nabi Nuh AS, Azar paman nabi Ibrahim AS dan Abu Jahal paman nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dengan niat yang ikhlas secara otomatis mengindikasikan diri kita memperoleh hidayah Allah SWT, dan keharusan untuk mensyukurinya.

Keempat, bersyukur kepada Allah SWT. Dengan bersyukur tentunya makna ‘idul fithri dapat meresap di dalam diri kita seperti halnya bayi yang baru dilahirkan, karena dosa-dosa telah diampuni Allah SWT. Namun kita hidup di dunia ini dengan dua aspek vertikal “hablum min allah” dan horizontal “hablum min an-nas”.

Pada aspek vertikal, kita sebagai manusia secara fithrah meyakini, mempercayai dan menyerahkan diri dengan totalitas kepada Allah SWT. Hal ini menjadi bukti bahwa manusia tidak akan bisa melawan fithrah yang terdapat di dalam dirinya untuk bersikap kufur kepada Allah SWT. Melawan fithrah berarti sama saja artinya melawan Allah SWT. Dan pada aspek horizontal, tidak dapat dipungkiri secara fithrahnya manusia merupakan makhluk sosial, dimana antara satu dengan yang lain saling membutuhkan dan melengkapi. Manusia yang bersikap sombong dan angkuh mengindikasikan bahwa dirinya telah melawan fithrahnya sebagai manusia “al-Insan Madaniyyun bi al-Thab’i”.

Semoga kita semua dapat kembali kepada fithrah sebagai manusia yang senantiasa berbuat kebaikan guna memakmurkan kehidupan di alam bumi ini.
Wallahu A’lam Bishawab…



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *